Sawah Art Village, Ketika Padi Tidak Hanya Jadi Nasi

Sawah-Kreasi-di-Sleman-Jogjakarta via travelingyuk
Sawah-Kreasi-di-Sleman-Jogjakarta via travelingyuk

Tanbo Art atau karya seni ‘melukis’ diatas kanvas raksasa berupa sebidang sawah, adalah salah satu cabang karya seni yang lahir di Jepang. Karya ini pertama kali muncul kira-kira tahun 1993 di Desa Inakadate yang terletak sekitar 600 mil dari Tokyo, Jepang. Namun, kini tidak harus jauh-jauh ke negeri matahari terbit itu untuk menikmati karya seni tersebut. Tidak jauh dari Kota Yogyakarta, tepatnya di Dusun Lor Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, kita bisa menikmati pemandangan serupa.

Namanya Fuad Nasir Al falaq. Salah seorang pemuda berusia 23 tahun, alumni program studi pariwisata salah satu kampus di Yogyakarta. Dialah orang dibalik karya-karya Tanbo Art di kecamatan Prambanan tersebut. Awalnya, Ia melihat potensi persawahan di desanya yang selama ini hanya dimanfaatkan sebagai media bercocok tanam saja. Tanam, panen, tanam lagi, panen lagi, dan seterusnya. Dari sini, ia melihat bahwa kawasan persawahan ini sebenarnya bisa ‘dijual’, bukan hanya hasil pertaniannya saja namun dari segi lain.



Dia kemudian mengadopsi seni lukis yang dikembangkan di Desa Inakadate, Jepang dan diterapkan di desanya. Hingga akhirnya lahirlah Sawah Art Village. Selama tiga bulan ini, ia menyulap lahan padi milik orang tuanya menjadi media untuk Tanbo Art. Sawah dengan luas 10×80 meter ini, ia kreasikan dengan bentuk-bentuk sesuai keinginannya. Saat ini bentuknya bebek, sebelumnya ia juga pernah ‘melukis’ panda. Ia memilih bentuk-bentuk hewan karena mudah.

Pada saat menanam padi, ia membuat desain gambar menggunakan benih padi berwarna ungu. Benih padi ini ditanam sesuai dengan jalur desain yang telah ia buat sebelumnya. Padi kemudian dibiarkan tumbuh seperti biasanya. Jadi, ketika padi mulai tumbuh, akan terlihat bentuk-bentuk yang dibuat. Hingga musim panen tiba, padi dapat dipanen seperti layaknya panen pada umumnya. Selanjutnya ia kemudian membuat desain baru lagi

Bagi yang ingin melihat dan mengambil gambar, disediakan gardu pandang dari bambu, sehingga dapat melihat dari kejauhan. Hingga saat ini Fuad masih menggunakan sawah milik orang tuanya. Kedepannya ia ingin mengajak kerja sama petani sekitar untuk mengembangkan karya seni ini agar dapat meningkatkan sektor pariwisata di desa tersebut.  (Sije)

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply