Endog Abang Sekaten dan Cerita Dibaliknya

Endog_abang_sekaten via kompasiana
Endog_abang_sekaten via kompasiana

Sekaten, satu gelaran tahunan yang rutin diselenggarakan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW atau dalam tradisi Jawa dikenal sebagai istilah muludan (diambil dari bahasa Arab maulud) di wilayah Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Selain diperingati dengan ritual budaya yang dipadupadankan dengan agama, Sekaten juga selalu diramaikan dengan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS). Ibarat sesuatu yang ditunggu-tunggu, segala macam hiburan rakyat selalu ramai diserbu. Mulai dari bianglala, tong setan, kora-kora, hingga rumah hantu. Selain menyediakan hiburan yang murah meriah bagi masyarakat, Pasar Malam Sekaten juga menyajikan aneka kuliner yang sayang untuk dilewatkan. Seperti nasi uduk Sekaten, aneka kue tradisional, roti goreng, donat,  dan semacamnya, hingga satu jajanan yang cukup khas endog abang atau telur merah.

Sama seperti namanya, makanan ini diolah dari telur yang kemudian diwarnai dengan warna merah menyala. Telur yang digunakan adalah telur ayam pada umumnya. Telur direbus hingga matang, lalu cangkangnya di cat warna merah. Setelah itu, telur tersebut ditusuk dengan seruas bambu dan dihias menggunakan kertas agar lebih cantik. Dari segi rasa, karena memang kuliner ini berbahan telur, maka rasanya juga seperti telur rebus pada umumnya. Jajanan ini di pasar malam Sekaten dijual dengan harga Rp 4.000,-.



Meski kini sudah ramai jajanan kekinian, makanan khas Sekaten ini masih ada hingga sekarang. Bahkan menjadi istimewa karena makanan ini hanya bisa ditemui saat perayaan Sekaten, satu tahun sekali. Biasanya endog abang ini dijajakan oleh perempuan lanjut usia dan dijual bersama dengan uborampe nginang. Terlihat biasa, namun siapa snagka kalau penganan unik ini memiliki arti filosofis yang menarik.

Terdiri dari tiga bagian utama, masing-masing bagian dari Endog Abang memiliki makna filosofi. Endog (telur) melambangkan  kelahiran. Abang (warna merah) melambangkan kesejahteraan, dan ruas bambu yang digunakan sebagai penusuk melambangkan hubungan vertical manusia kepada penciptanya, Allah Tuhan yang Maha Esa. Sehingga apabila digabungkan, Endog Abang memiliki makna lahir untuk kehidupan yang baik dan sejahtera namun tetap berpegang teguh dengan takdir dan aturan Allah.  Menarik ya? Ingin mencicipi langsung jajanan jadul ini? Langsung saja ke Alun-Alun Utara Yogyakarta. Tahun ini, PMPS dilaksanakan lebih singkat, yakni 18 hari, dari tanggal 2-19 November 2018. (Sije)

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply