Sri Sultan Hamengku Buwono V, Sultan Termuda dalam Sejarah Kasultanan Yogyakarta

Sri-Sultan-Hamengku-Buwono-V
Sri-Sultan-Hamengku-Buwono-V

Sejarah mencatat, Kasultanan Yogyakarta pernah memiliki raja dengan umur yang masih belia. Pertama Sri Sultan Hamengku Buwono IV yang dinobatkan menjadi raja saat berumur 10 tahun. Kedua, Sri Sultan Hamengku Buwono V yang dinobatkan diusia 3 tahun untuk menggantikan ayahnya yang meninggal saat umur 19 tahun. Lahir pada 20 Januari 1821, putera dari Sri Sultan Hamengku Buwono IV dengan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencono menyandang nama kecil Gusti Raden Mas (GRM) Gatot Menol.

Sama seperti ayahandanya yang diangkat menjadi raja diusia yang masih belia, saat GRM Gatot Menol resmi menjadi raja, dibentuklah wali raja. Anggota dewan perwalian waktu itu terdiri dari Ratu Ageng (Permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono III), Ratu Kencono (Permaisyuri Sri Sultan Hamnegku Buwono IV), Pangeran Mangkubumi (Putera dari Sri Sultan Hamengku Buwono II), dan Pangeran Diponegoro. Dewan wali ini bertanggung jawab atas urusan keuangan Kasultanan Yogyakarta kala itu. Sedang untuk urusan pemerintahan, diserahkan kepada Patih Danurejo III, namun masih tetap dibawah pengawasan Belanda.



Sri Sultan Hamengku Buwono V baru memegang kendali penuh atas Kasultanan Yogyakarta saat Ia akil baligh yakni ketika usianya menginjak 16 tahun pada tahun 1836. Pada masa kepemimpinannya ini, Ia pernah digantikan oleh kakek buyutnya Sri Sultan Hamengku Buwono II (1826-1828). Penggantian ini juga merupakan salah satu taktik Belanda untuk sedikit meredam Perang Diponegoro, karena Sri Sultan Hamengku Buwono II dianggap disegani di wilayah Kasultanan. Namun, sama halnya dengan Pangeran Diponegoro, Sri Sultan Hamengku Buwono II juga memiliki watak yang keras terhadap penjajahan.

Sebagian dari masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono V diwarnai dengan Perang Diponegoro atau juga dikenal dengan perang Jawa. Disebut perang Jawa karena Sang Pangeran mampu membangkitkan gelora perjuangan hampir seluruh penduduk Jawa. Perjuangannya kemudian juga didukung oleh para santri yang mengabdi di Keraton Yogyakarta (abdi dalem Suronatan, Suryagama), para pelajar dari pesantren-pesantren serta kelompk lain yang dibawa oleh Kyai Mojo, sekutunya. Gelora Perang Jawa mulai meredup tahun 1827, hingga akhirnya dengan cara yang licik, Belanda mengakali Pangeran Diponegoro. Hingga akhirnya Sang Pangeran tertangkap, lalu kemudian diasingkan ke Manado, lalu berakhir di Makasar hingga wafat pada 8 Januari 1855.

Setelah Perang Jawa meredup, Sri Sultan Hamengku Buwono V melakukan pendekatan kepada pemerintah Belanda. Hal ini merupakan satu taktik perang pasif untuk menghadapi penjajahan. Selama masa damai, Sri Sultan Hamengku Buwono V lebih banyak mengembangkan seni dan sastra. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya karya sastra dan keris pusaka yang dibuat dibawah pemerintahannya.

Sama dengan ayahandanya, Sri Sultan Hamengku Buwono V juga meninggal pada usia yang cukup muda. Ia wafat pada 5 Juni 1855 pada usia 34 tahun. Pada saat meninggal, Sultan tidak memiliki anak dari Permaisuri pertamanya GKR Kencono. Permaisuri keduanya GKR Sekar Kedhaton, yang saat itu sedang hamil, juga tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan segera melahirkan. Akhirnya tahta kepemimpinan dilanjutkan oleh adiknya Raden Mas Mustojo.

Banyak karya sastra yang dihasilkan dalam masa pemerintahannya. Satu yang cukup banyak dikenal dan menjadi rujukan raja setelahnya adalah Serat Makutha Raja. Karya ini berisi tentang prinsing menjadi raja yang baik. Serat ini berisi nasehat-nasehat dari Kitab Tajus Salatin. Selain itu, pada eranya juga lahir karya besar lain seperti Serat Syeh Tekawardi, Suluk Sujinah, dan Serat Syeh Hidayatullah.

Dunia seni tak luput dari perhatiannya. Selama hidupnya Ia telah membuat lima judul lakon wayang orang yang sering dipertunjukkan, yakni Angkawijaya Krama, Jaya Semedi, Pragulamurti, Petruk Dadi Ratu, dan Pregiwa-Pregiwati. (Sije)

Sumber:

kratonjogja.id

tirto.id

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply