Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Bapak Pramuka Indonesia

Sri-Sultan-Hamengku-Buwono-IX-Bapak-Pramuka-Indonesia
Sri-Sultan-Hamengku-Buwono-IX-Bapak-Pramuka-Indonesia

Tanggal 14 Agustus 2018 diperingati sebagai Hari Pramuka di Indonensia yang ke-57. Seperti biasa, aneka kemah dan jambore digelar untuk memeriahkan hari bersejarah ini. Dulu sebelum adanya gerakan Pramuka, terlebih dulu dikenal istilah Scouting  di Inggris yang dipopulerkan oleh Lord Baden Powell. Istilah ini merujuk pada pembinaan kepada remaja. Powell memiliki banyak keahlian seperti berenang, berlayar, hingga kemah yang bermanfaat untuk proses pembinaan remaja. Dari pengalaman tersebut, Ia menulis buku berjudul, “Scouting for Boys”. Buku ini menjadi inspirasi kegiatan pembinaan remaja, termasuk di Indeonesia. Pramuka di Indoensia sendiri lahir melalui Keputusan Presiden RI tahun No 238 tertanggal 20 Mei. Namun gerakan Pramuka baru kemudian diperkenalkan kepada masyarakat secara luas pada tanggal 14 Agustus 1961.

Berbicara tentang gerakan Pramuka Indonesia, Yogyakarta sendiri memiliki satu tokoh yang berjasa dalam gerakan ini. Ia adalah Gusti Raden Mas Dorojatun. Lahir tanggal 12 April 1912 putera dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.  Masyarakat lebih banyak mengenalnya dengan nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Ya, dia adalah raja ke-9 dari dari Kasultanan Yogyakarta.



Sekilas tentang sejarah gerakan Pramuka, tanggal 9 Maret 1961, Sukarno membentuk sebuah panitia pembentukan gerakan pramuka, dimana salah satu anggotanya adalah Sri Sultan HB IX. Panitia ini yang selanjutnya meramu Anggaran Dasar dari Gerakan Pramuka lalu kemudian terbitlah Keputusan Presiden tentang pembentukan Pramuka.

Sejak pertama kali berdiri pada tahun 1961, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) pertama. Kemudian, selanjutnya selama empat periode berturut-turut, Ia terus diamanahi jabatan tersebut. Terhitung masa jabatan 1961-1963, 1963-1967, 1967-1970, dan 1970-1974. Ia merupakan tokoh yang dianggap berhasil menyatukan berbagai gerakan maupun organisasi kepanduan yang ada di Indonesia menjadi dalam satu wadah, Pramuka.  Sama seperti dengan panggilan umum dalam Pramuka, Sultan ke-9 dari Kasultanan Yogyakarta itu juga dipanggil dengan sebutan ‘Kak Sultan HB IX’.

Banyak penghargaan diberikan kepada Sri Sultan HB IX atas keberhasilannya membangun Pramuka sejak masa peralihan dari ‘Kepemanduan’ menjadi ‘kepramukaan’. Pada tahun 1973, Ia bahkan menerima Bronze Wolf Award dari Word Organization of the Scout Movement (WOSM). Atas semua jasanya ini, pada Munas Gerakan Pramuka tahun 1988 di Dili Ibu kota Timor Timur  (sekarang Timor Leste), Ia kemudian dikukuhkan menjadi Bapak Pramuka Indonesia. Keputusan pengangkatannya ini termaktub dalam Surat Keputusan nomo 10/MUNAS/88 tentang Bapak Pramuka. (Sije)

Sumber:

tempo.co

kratonjogja.id

jogjaprov.go.id

RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply