Masjid Condrokiranan, Tetap Bertahan Meski Nyaris Dirobohkan

Masjid Condrokiranan
Masjid Condrokiranan

Salah satu wisata menarik yang bisa dikunjungi di wilayah Keraton Yogyakarta adalah wisata religi, utamanya islam. Sejarah panjang mengantarkan Kerajaan Mataram Silam terbelah menjadi dua, Kasultanan Yogyakarta, dan Kasunanan Surakarta. Maka tidak heran kalau kemudian ada begitu banyak peninggalan bangunan sejarah yang kental dengan nuansa islam seperti masjid, serta peninggalan lain yang tersimpan rapi dalam museum. Baik itu museum Keraton Yogyakarta, atau Museum Sonobudoyo.

Sebelum dipugar dan direncanakan menjadi museum bertaraf Internasional, Museum Sonobudoyo memiliki dua unit bangunan. Pertama Museum Sonobudoyo unit satu yang berada di tepat sebelah utara Alun-alun utara, dan yang kedua Museum Sonobudoyo unit II yang berada di sebelah timur alun-alun utara. Namun sayangnya, beberapa tahun Museum Sonobudoyo unit II tidak cukup terawat dengan baik. Hingga akhirnya beberapa bangunan dipugar, dan bangunan museum dipusatkan di Museum Sonobudoyo unit I. Pemugaran ini berdampak ke beberapa hal. Salah satunya adalah rencana pembongkaran Masjid Condrokiranan yang letaknya pas di depan eks. Museum Sonobudiyo unit II.

Masjid ini berada di lingkungan ndalem Condrokiranan (saat ini Museum Sonobudoyo unit II). Sebelum akhirnya dirombak menjadi museum, bangunan ini dulunya merupakan tempat tinggal Adipati Kanjeng Gusti Pangeran (AKGP) Aryo Mataram sebelum diangkat menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono III. Sayangnya saat ini bentuk bangunan asli dari tempat ini sudah banyak dirombak, sehingga tidak lagi menyisakan ciri khas rumah tinggal waktu itu.

Bangunan dengan warna dominan hijau ini nyaris dipugar dan dialihfungsikan menjadi gudang museum. Padahal waktu itu, masjid dalam kondisi baik dan digunakan oleh masyarakat sekitar lokasi untuk beribadah termasuk ibadah salat jumat. Sejak awal dibangunnya (tahun berdirinya tidak terdokumentasi), masjid (saat itu masih berstatus musholla) ini awalnya difungsikan untuk kepentingan ibadah pegawai museum dan pengunjung museum saja.  Luas bangunannya pun lebih kecil dibanding dengan bangunan saat ini. Namun seiring berjalannya waktu, warga masyarakat mulai ikut menggunakan musholla ini. Oleh warga, musholla ini diperlebar dengan menambah serambi di bagian timur masjid. Hingga akhirnya, nama Masjid Condrokiranan disematkan kepada bangunan ini.  Tahun 2015 lalu rencana pemugaran masjid digaungkan dan mendapat penolakan oleh berbagai pihak terutama warga sekitar, hingga saat ini masjid masih digunakan oleh warga masyarakat sekitar untuk aktivitas keagamaan. (Sije)

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply