Menikmati Kesegaran Es Gerjen, Es Campur Legendaris di Kauman

Es Gerjen Jogja
Es Gerjen Jogja

Berkunjung ke Kota Yogyakarta, rasanya tidak lengkap kalau belum mencicipi kuliner kaki limanya. Jangan salah, Jogja bukan hanya sekedar gudeg, jadah tempe atau sate klathak saja. Ada beberapa kuliner legendaris lain yang sayang untuk dilewatkan. Salah satunya Es Campur Pak Lantip atau lebih sering disebut dengan Es Gerjen.

Menempati lapak yang sangat sederhana yakni di depan toko di sederetan Jalan Nyai Ahmad Dahlan, Pak Lantip membuka dagangannya dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Tidak ada kursi, apalagi meja. Hanya tempat duduk seadanya memanfaatkan emperan toko yang dilengkapi dengan terpal yang diikat. Sekilas tidak ada yang istimewa dari tempatnya. Ya seperti penjual kuliner kaki lima lainnya.



Namun siapa sangka, dibalik sederhananya lapak yang ia buka, Pak Lantip sudah berjualan es campur semenjak 33 tahun lalu atau sejak tahun 1985 silam. Dan meski sederhana, pelanggannya tidak pernah putus. Ada saja yang beli, sebab itu Es Campur buatannya laris hingga saat ini.

Cara pembuatan es campus disini masih sederhana. Sebelum pembeli datang, Pak Lantip sudah menyiapkan mangkuk-mangkuk berisi buah dan tambahan lainnya. Begitu pembeli datang, Pak Lantip akan langsung menanyakan, mau pakai gula jawa atau gula putih. Setelah memilih jenis gula, mangkuk yang berisi aneka buah tadi langsung ditadahkan dibawah alat gosrok es batu. Es batu yang berbentuk kotak diletakkan di atas alat ‘gosrokan’. Dan srok..srok..srok..srok

Es-gerjen-Pak-lantip
Es-gerjen-Pak-lantip

Mangkuk yang awalnya hanya berisi aneka buah tadi sudah penuh dengan es gosrok. Tinggal sentuhan terakhir, diatas es gosrok kemudian disirami dengan susu kental manis rasa coklat. Satu mangkuk Es Campur Pak Lantip berisi melon, kolang kaling, sawo, tape, cincau hitam, dan kelapa muda, hanya dipatok harga Rp 8.000 saja. Harga yang murah untuk sebuah pengganjal perut dan penghilang dahaga bukan.

Dari segi rasa, kental manis coklat cukup mendominasi. Ditambah dengan gula, rasa manis dari es campur ini sangat terasa. Jadi, bagi yang tidak menyukai manis, lebih baik minta dikurangi jumlah gula yang ditambahkan. Kalau sudah sampai disini, ada baiknya sekalian mampir ke salah satu cagar budaya di kawasan ini, yakni Langgar Kidoel Kyai Haji Ahmad Dahlan. Hanya tinggal menyeberang jalan, papan petunjuk arah sudah terlihat jelas di timur jalan. (Sije)

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply