Kamis Pahingan, Tradisi Mengenakan Pakaian Tradisional di Yogyakarta

kamis-pahingan-Yogyakarta
kamis-pahingan-Yogyakarta

Apa yang teripikirkan ketika berkunjung ke Jogja? Budaya? Tradisional? Atau hanya sekedar keindahan alamnya saja? Beberapa orang menganggap Yogyakarta adalah tempat dengan segala macam budaya Jawa yang masih terpelihara dengan baik. Tidak salah memang beranggapan seperti itu, sebab kenyataannya, ada beberapa tradisi yang mencerminkan pelestarian budaya Jawa di Yogyakarta. Salah satunya yaitu tradisi “Kamis Pahing”. Pahing adalah nama salah satu pasaran  di kalender atau penanggalan Jawa. Kamis Pahing hanya terjadi setiap selapan atau 35 hari sekali. Lalu apa yang menarik dari tradisi ini?

Berdasar surat edaran pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, No:17/SE/XII/2016 tentang penggunaan pakaian dinas pegawai aparatur sipil Negara tahun 2017, telah diatur penggunakan pakaian dinas bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja dan Pegawai Tidak Tetap atau sebutan lain yang bekerja di instansi Pemerintah DIY. Dalam edaran tersebut tertuliskan bahwa setiap hari Kamis Pahing pakaian yang dikenakan adalah Pakaian Tradisional Jawa Yogyakarta. Penerapan aturan ini kemudian berkembang, tidak hanya untuk pegawai saja, namun hingga tingkat anak sekolah pun juga turut serta mensukseskan penerapan aturan ini. Maka tidak heran kalau setiap 35 hari sekali, tepatnya setiap hari Kamis Pahing, warganet yang kebetulan melintas di Yogyakarta pada jam-jam tertentu akan melihat anak-anak bahkan orang dewasa mengenakan pakaian adat.



Latar Belakang Pemilihan Hari Kamis Pahing

Lalu mengapa harus Kamis Pahing? Konon, dipilihnya hari Kamis Pahing karena ada nilai sejarah yang melekat pada hari tersebut. Entah disengaja atau tidak, Keraton Yogyakarta beberapa kali mengalami hal yang cukup penting pada hari Kamis. Peristiwa pertama, penandatanganan perjanjian Giyanti. Perjanjian yang merupakan awal mula berdirinya Keraton Yogyakarta ditandatangai pada tanggal 13 Februari 1755. Dalam penanggalan Jawa, tanggal tersebut bertepatan dnegan hari Kamis Kliwon, 12 Rabingul Awal 1680 TJ (Tahun Jawa). Pada perjanjian itu, dinyatakan bawa Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta yang dipimpin oleh Susuhan Paku Buwono III dan Kasultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Peristiwa kedua, pada tanggal 13 Maret 1755 atau bertepatan dengan hari Kamis Pon, 29 Jumadilawal 1680 TJ, Kasultanan Yogyakarta memproklamirkan diri atau diperingati sebagai Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Usai proklamasi ini, Sri Sultan Hamengku Buwono I mulai membangun Keraton Yogyakarta.

Proses pembangunan Keraton membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun. Selama proses pembangunan, Sultan bersama keluarga tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang. Hingga akhirnya, Sri Sultan HB I beserta keluarga dan pengikutnya berpindah ke Keraton Yogyakarta  pada tanggal 7 Oktober 1756 yang bertepatan dengan hari Kamis Pahing 13 Sura 1682 TJ. Peristiwa berpindahnya Sultan berserta keluarga dan pengikutnya inilah yang kemudian diperingati dan dikenang dengan penggunaan baju adat Jawa Yogyakarta di berbagai instansi pemerintahan dan sekolah di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. (Sije)

Be the first to comment

Leave a Reply