Masjid Soko Tunggal, Masjid Unik dengan Filosofi Pancasila

Tiang Masjid Soko Tunggal
Tiang Masjid Soko Tunggal

Sejarah Keraton Yogyakarta memiliki hubungan erat dengan Islam. Dimulai dari Kerajaan Mataram Islam, hingga akhirnya terpisah menjadi dua bagian yakni Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta, membuat keduanya memiliki kekayaan sejarah yang penuh dengan nilai keislaman. Salah satunya adalah masjid-masjid kuno yang banyak tersebar di sudut Kota Yogyakarta. Selain Masjid Gede Kauman dan Masjid Gede Mataram Kota Gede, ada beberapa masjid yang meski ukurannya lebih kecil, namun layak untuk ditelusuri sejarahnya.

Belum lama ini salah satu tim Ngangsukawruh mencoba untuk mengunjungi beberapa masjid bersejarah ini. Penelusuran dimulai dari Masjid Soko Tunggal Taman Sari. Seperti namanya, masjid ini hanya memiliki satu tiang penyangga di tengah bangunan yang biasa disebut dengan soko guru. Bagian atas soko guru terdapat empat soko bentung yang disusun seperti bagian atas payung. Empat soko bentung dan satu soko guru ini bukan tanpa arti. Apabila dijumlahkan, akan didapatkan angka lima (satu soko guru dan empat soko bentung). Lima disini melambangkan Negara yang berlandaskan Pancasila. Satu soko guru melambangkan sila pertama, Ketuhananan yang Maha Esa.



Selain tiang penyangganya, bentuk usuk yang disusun memusat (seperti jari-jari payung) disebut dengan peniung melambangkan kewibawaan Negara dalam melindungi rakyatnya. Tidak sampai disini, pada bagian bawah soko guru terdapat batu umpak berwarna hitam (semacam alas dari sebuah tiang) yang konon dibuat dari batu zaman Sultang Agung Hanyokrokusumo, Sultan pertama Kerajaan Mataram Islam.

Hubungan erat antara Keraton Yogyakarta dengan peninggalan-peninggalan Islam juga dikuatkan dengan arsitek yang merancang Masjid Soko Tunggal ini. Ialah Raden Ngabehi Mintobudoyo yang merupakan arsitek resmi Keraton Yogyakarta yang merancang bangunan ini. Beberapa bagian dari Masjid Soko Tunggal ini memiliki makna dan arti tersendiri. Salah satunya dari segi kontruksi, terdapat bahu danyang yang melambangkan, orang-orang yang salat disini akan kuat melawan godaan iblis yang datang dari empat penjuru dan lima pancer. Keunikan lain, masjid ini dibangun tanpa menggunakan paku.

Masjid_Soko_Tunggal_Tamansari
Masjid_Soko_Tunggal_Tamansari

Masjid ini selesai dibangun pada Hari Jumat tanggal 21 Rajab tahun Be (penanggalan Jawa). Hal ini ditandai dengan adanya candrasengkala bertuliskan “Hanembah Trus Gunaning Janma” 1392 H atau 1 September dalam Suryasengkala “Nayana Resi Anggatra Gusti” 1972 M. Berdasar prasasti yang tertempel di dinding, Masjid Soko Tunggal diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 23 Februari 1973. Hingga saat ini, Masjid Soko Tunggal masih aktif digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan.

Tertarik untuk melihat langsung Masjid dengan filosofi Pancasila ini? Langsung datang saja ke kompleks wisata Tamansari, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Masjid Soko Tunggal berada di kiri jalan tepat di depan pintu masuk obyek wisata Tamansari. Bagi yang membawa kendaraan bermotor, kendaraan bisa dibawa masuk ke dalam kompleks masjid, sedang bagi pengunjung yang menggunakan mobil, bisa diparkir di lokasi parkir wisata. (Sije)

RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply