Review Novel Anak Rantau Karya A. Fuadi

Cover Novel Anak Rantau
Cover Novel Anak Rantau

Ahmad Fuadi atau A. Fuadi telah menjadi salah satu novelis bestseller Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Novel pertamanya di tahun 2009 adalah  Negeri Lima Menara , telah menjadi novel bestseller . Novel Negeri Lima Menara  juga telah diadaptasi  menjadi film layar lebar pada tahun 2012, sekaligus menyusul kesuksesan bukunya. Dua novel berikutnya Ranah Tiga Warna dan Rantau Satu Muara juga mendapat sambutan istimewa dari para penggemarnya. Pembaca mulai bisa mengidentifikasi novel-novel A. Fuadi sebagai novel-novel penuh inspirasi, cocok dibaca semua umur.

Kali ini, redaksi ngangsukawruh akan mencoba mereview novel terbaru dari A. Fuadi yang berjudul Anak Rantau, masihkah memberikan banyak inspirasi sebagaimana novel-novel A. Fuadi sebelumnya ?

Dibuka dengan konflik yang menggebrak dalam bab Layang-layang Putus, dikisahkan tiga anak yang sepertinya sedang terancam bahaya, bahkan salah satu anak bernama Hepi di akhir bab ini diceritakan digantung, dan belum diketahui akhir ceritanya apakah hidup atau mati nasibnya. Bab pertama novel ini sudah cukup membuat para pembaca bertanya-tanya siapa sebenarnya Hepi ini,  siapa teman –temannya yang bersamanya itu, siapa para penjahat yang menangkapnya, dan apa sebenarnya yang terjadi. Pada bagian ini A. Fuadi sukses membuat para pembaca ingin segera membaca lanjutan dari cerita ini.



Masih berlatar belakang adat istiadat Sumatera Barat sebagaimana latar belakang tokoh Alif, tokoh Utama di novel Negeri Lima Menara, novel Anak Rantau sebagian besar bahkan mungkin 95% bersetting di Sumatera Barat dengan segala adat istiadat dan agamanya yang kokoh.

Novel Anak Rantau bercerita tentang tokoh utamanya, seorang remaja tanggung bernama Hepi, penggila buku, cerdas, penyuka kisah detektif, bisa beladiri, piatu sejak lahir, berharap mendapat perhatian lebih dari ayahnya yang sibuk dengan pekerjaannya, dan puncaknya…saat ujian Hepi  tidak mengisi satupun soal ujian, dampaknya nilai raportnya kosong melompong. Hal inilah yang membuat ayahnya, Martiaz,marah, dan berpikir ulang mengenai metode mendidik terbaik untuk anaknya. Akhirnya keputusannya bulat, mengirimkan Hepi untuk tinggal di kampung halamannya di tanah Minang, dititipkan pada kakek dan neneknya.

Hepi dalam kondisi terluka di daratan Minang, merasa ditinggalkan ayahnya, bertekad untuk kembali ke Jakarta dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Di tengah kehidupan barunya bersama kakeknya yang galak dan neneknya yang penyayang, Hepi berjuang mengumpulkan uang sedikit demi sedikit mulai dari membantu berjualan tetangganya yang memiliki warung makan, bekerja sebagai pengantar barang di Bang Lenon seorang mantan preman Jakarta yang pulang kampung, berjualan durian di musim durian, hingga nekat mendekati rumah yang paling ditakuti oleh seluruh warga desa, rumah Pandeka Luko, seorang kakek yang  digambarkan sebagai  sosok yang mengerikan, bertaring panjang, berwajah menyeramkan, sering keluar malam, dan berbagai hal mengerikan lainnya. Tekad Hepi Cuma satu, memastikan isu bahwa sosok tersebut mampu menggandakan uang  dengan mesin cetak uang adalah benar, karena jika benar, Hepi berharap orang tersebut  bisa membantunya mewujudkan mimpinya pulang ke Jakarta. Ternyata belakangan diketahui Pandeka Luko ini sebenarnya adalah kakak dari kakek Hepi, yang di masanya pernah menjadi pahlawan pejuang kemerdekaan, yang selama ini mendapatkan rejeki bukan dari menggandakan uang, melainkan dari  honor  karena senang membuat tulisan dan mengirimkan tulisannya ke berbagai media.

Hepi, ditemani dua temannya, Attar dan Zen, juga mengalami berbagai petualangan seru. Salah satunya saat Hepi dibuat marah besar karena celengan yang berisi tabungannya selama ini, hasil jerih payahnya,  raib diambil pencuri. Bersama dua temannya, Hepi berhasil mengungkap kasus pencurian itu, sekaligus menjadi akhir sepak terjang para pencuri yang selama ini begitu marak beraksi di desa.

Namun petualangan paling puncak  bukan ini, ada yang lain. Yakni  saat Hepi dan dua temannya berhasil mengungkap penyebab kenapa marak terjadi pencurian, ternyata dilatarbelakangi karena peredaran narkoba, yang dipimpin oleh Bang Lenon, sosok yang Hepi kira sudah insyaf, sosok yang juga sudah memberi pekerjaan Hepi untuk antar barang kerajinan kemana-mana, namun tidak disangka Hepi bahwa di dalam barang kerajinan yang  ia antar kemana-mana itu terselip narkoba. Beruntung Hepi, di saat dia nyaris tewas karena digantung komplotan Bang Lenon, Hepi diselamatkan  Pandeka Luko, yang ternyata juga jago beladiri, yang datang bersama rombongan polisi dan kakek kandung Hepi.



Kelebihan

Novel Anak Rantau setebal 357 halaman ini memiliki banyak kelebihan.  Yang pertama sebagaimana sudah diduga di awal, novel ini adalah jenis novel yang bisa memberi inspirasi ke para pembacanya, sebagaimana novel-novel karya A. Fuadi yang lain.  Awalnya Hepi digambarkan sebagai sosok yang terluka, marah kepada ayahnya atas perlakuannya meninggalkannnya di kampung, kesedihan karena tiada beribu, hingga karena itu Hepi berjuang sekuat tenaga mengumpulkan uang supaya bisa kembali ke Jakarta. Namun berbagai kehidupannya di kampung  telah menjadikannya menjadi sosok pemaaf, memaafkan semua tindakan ayahnya, mengikhlaskannya, di akhir cerita bahkan dijelaskan bagaimana kemudian Hepi berencana untuk menyerahkan seluruh tabungannya yang semula untuk beli tiket pesawat ke Jakarta menjadi untuk Pandeka Luko. Hepi berharap uang tabungan itu bisa digunakan pandeka Luko untuk operasi matanya yang menderita katarak.

Yang kedua, di tengah kebiasaannya menyelipkan unsur budaya minang serta latar belakang islam dalam novel-novelnya, kali ini A. Fuadi juga sukses menyelipkan sesuatu yang lain , yakni unsur detektif. Maka jadilah novel ini berisi beberapa penggabungan unsur : budaya yang kuat, islami,  sekaligus detektif.  Menggabungkan beberapa unsur ke dalam satu novel pastinya bukan pekerjaan mudah, terlebih A. Fuadi bukan dikenal sebagai penulis detektif,  namun novel Anak Rantau ini cukup sukses menggabungkan beberapa hal tersebut.

Yang ketiga, novel ini layak dibaca oleh semua umur, mulai dari anak usia SD, mahasiswa, juga para orang tua. Berbeda dengan karya-karya sebagian besar  penulis yang biasanya untuk segmen kalangan usia tertentu, novel Anak Rantau bisa dibaca oleh semua kalangan. Clear dari unsur pornografi dan pornoaksi.

 

 

Kekurangan

Tidak banyak yang bisa diungkap dari kekurangan novel ini. Kalaupun ada, menurut kami adalah pada bagian ketika Hepi memiliki tekad kuat untuk menyambangi rumah Pandeka Luko karena berharap Pandeka Luko benar –benar bisa menggandakan uang dengan mesin uang sebagaimana isu yang beredar. Alasan yang melatarbelakangi tindakan Hepi ini menjadi kurang relevan dengan karakter Hepi. Mari kita review beberapa karakter Hepi  di novel ini:

  1. Hepi senang membaca,
  2. Hepi kuat di logika
  3. Ada kisah bahwa meskipun Hepi sangat ingin mengumpulkan uang, namun dihadapkan godaan antara “meminjam” uang kotak infak di masjid atau nuraninya, Hepi terbukti bisa memenangkan nuraninya.
  4. Ada kisah ketika Hepi benar-benar sedih ketika mengetahui bahwa ia secara tidak langsung, tanpa diketahuinya, ternyata selama ini menjadi kurir narkoba. Dia sama sekali tidak tahu bahwa barang kerajinan tangan yang ia antar, di dalamnya ada narkoba. Dan begitu tahu, Hepi teramat menyesal.

Maka dengan beberapa karakter Hepi di atas, kalaupun benar Pandeka Luko bisa menggandakan uang (untungnya tidak),  seharusnya Hepi paham bahwa menggandakan uang itu adalah salah satu bentuk kejahatan, yang seharusnya itu bertentangan dengan nuraninya. Namun dalam kisah ini, sedikitpun tidak dimunculkan keraguan Hepi atas alasan tindakannya.

 

Selebihnya, ini novel yang keren, yang juga layak difilmkan sebagaimana novel Negeri Lima Menara. Bagi kamu-kamu yang suka novel berlatar belakang budaya, adat istiadat, atau kamu yang suka novel-novel islami, atau kamu –kamu yang penyuka novel detektif, atau kamu-kamu yang lagi galau pingin mendapatkan inspirasi, baca deh novel ini. Rekomended banget J . Selamat membaca…. (Danang)

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply