6 Makanan Ekstrim Khas Gunungkidul

Enthung Pohon jati (sumber gambar : www.rimanews.com)
Enthung Pohon jati

Kamu bukan warga Gunungkidul ?  Pasti kurang tahu makanan-makanan ini. Tapi bagi warga Gunungkidul, terutama yang kelahiran era tahun 60an hingga decade 90an, pasti banyak yang tahu makanan  yang…bagi masyarakat lain terkesan ekstrim, namun sejatinya memang uenak dan bergizi.

 

  1. Belalang

Hewan satu ini telah menjadi makanan khas Gunungkidul sejak berpuluh –puluh tahun lalu. Berburu “walang”, telah menjadi keasyikan para anak-anak dan  remaja Gunungkidul ketika musim hujan tiba. Di pagi hari sebelum berangkat sekolah atau sore hari sepulang sekolah, dengan bermodal bambu dan tanpa beralas kaki, anak anak dan remaja di Gunungkidul kala itu menuju kebun/ladang milik tetangga/orang tua mereka, mencari pohon turi, menggedornya dengan bambu yang mereka bawa. Segera setelah itu akan nampak beberapa ekor belalang terbang menjauh. Anak-anak ini pun kemudian akan berlari-lari dengan kaki yang penuh tanah becek, bersaing dengan teman –temannya mengejar belalang ini.

belalang goreng (sumber gambar : wisatawan.iD)
belalang goreng (sumber gambar : wisatawan.iD)

Sebelum maghrib, anak –anak ini akan membawa belalang-belalang yang mereka dapatkan ke rumah untuk dibersihkan, dibuang kotorann belalangnya yang berada di sekitaran leher belalang, untuk kemudian dimasak, biasanya digoreng. Jangan tanya bagaimana rasa belalang goreng yang sudah dibumbui bawang garam, uenake pool. Namun hati-hati tidak semua orang cocok makan belalang, ketika kamu makan satu ekor belalang lalu muncul biduren, bintik-bintik merah, segera jauhi makan belalang, seenak apapun itu. Karena itu pertanda kamu alergi makan belalang.



Kuliner belalang ini saat ini masih banyak kita temui di wilayah sekitar Gunungkidul, kalau dulu kita musti berburu sendiri, saat ini banyak yang menjualnya dalam kemasan toples-toples kecil siap santap. Meski bagi orang awam kuliner ini terkesan “aneh”, jangan salah satu toples kecil belalang goreng yang beratnya tidak ada setengah kilo ini dijual seharga 40 ribu rupiah lho, wow, lebih mahal dari daging ayam, kambing, atau sapi.

 

  1. Enthung dan ungker Jati.

Apa itu enthung dan ungker ? enthung adalah kepompong, sedangkan ungker adalah ulat. Whaat ? makan kepompong dan ulat ? Tentu saja tidak sembarang ulat dan kepompong yang dimakan masyarakat Gunungkidul kala itu, tapi hanya ulat dan kepompong pohon Jati.

Enthung Pohon jati (sumber gambar : www.rimanews.com)
Enthung Pohon jati (sumber gambar : www.rimanews.com)

Pohon jati seolah memang telah menjadi ciri khas kabupaten Gunungkidul, kemana saja kita melangkah, akan banyak kita temui pohon jati ini. Karena memang pohon jati adalah vegetasi yang sangat cocok dengan batuan karst perbukitan di Gunungkidul.

Pada musim kemarau, pohon jati akan meranggas, yakni menggugurkan daunnya. Pada musim sebelum daun –daun ini meranggas, secara konsisten akan muncul ulat-ulat pohon jati yang memakan daun-daun jati. Ulat-ulat berwarna hitam ini semakin dewasa akan turun dari pohon jati, berubah menjadi kepompong berwarna coklat, sebelum akhirnya nanti akan berubah menjadi kupu-kupu yang cantic.  Masyarakat di era tahun itu akan mulai “memanen” ungker-ungker  pohon jati dewasa yang sudah turun ke bawah ini berikut enthung atau kepompongnya.

Bagaimana cara memasaknya ? enthong dan ungker ini harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dimasak. Untuk memasaknya juga bukan pekerjaan susah, bisa digoreng atau dimasak dengan cara lain. Rasanya ? uenak. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata enthung dan ungker ini memiliki kandungan gizi yang tinggi lho, bisa dicek beritanya di sini https://www.antaranews.com/berita/515285/kepompong-ulat-pohon-jati-bergizi-tinggi.

Budaya makan enthung dan ungker jati ini saat ini sudah sangat susah ditemui di Gunungkidul. Berbeda dengan belalang yang sampai saat ini masih ada.

 

  1. Laron

Laron asal mulanya adalah rayap yang bermetamorfosis sehingga berubah menjadi memiliki sayap. Laron biasa muncul di musim hujan. Saat malam hari mereka akan beterbangan mencari sumber-sumber cahaya seperti lampu-lampu rumah. Meski serangga, ternyata Laron bisa diolah menjadi masakan yang lezat. Hal ini sudah berlangsung berpuluh –puluh tahun lalu di Gunungkidul. Saat laron –laron ini menyerbu lampu rumah, masyarakat Gunungkidul menangkapnya baik dengan tangan maupun alat-alat sederhana yang sedikit basah seperti nampan yang dibasahi air terlebih dahulu. Laron-laron itu akan terjebak dan menempel pada nampan basah ini karena sayapnya terlalu berat untuk terbang. Setelah terkumpul dalam jumlah banyak, laron-laron akan dicuci bersih dibersihkan dari sayap-sayapnya untuk kemudian dimasak seperti dikukus dengan diberi parutan kelapa. Ternyata rasanya enak lho. Budaya mengkonsumsi laron di Gunungkidul saat ini mulai langka dijumpai, pun juga tidak dijual bebas sebagaimana belalang goreng.

Botok Laron (sumber gambar : https://masipoeng.wordpress.com/tag/kuliner/)
Botok Laron (sumber gambar : https://masipoeng.wordpress.com/tag/kuliner/)

 

 

 

  1. Jangkrik

Budaya mengkonsumsi jangkrik di Gunungkidul  tidak seintens sebagaimana mengkonsumsi belalang.  Jangkrik lebih sering dimanfaatkan oleh anak-anak di Gunungkidul di era 80an sebagai permainan, yakni untuk adu jangkrik. Namun, saat ini jika kita mampir ke pusat-pusat penjualan belalang goreng di Gunungkidul, akan kita jumpai juga dijual jangkrik goreng dalam kemasan toples. Dan sebagaimana belalang goreng, ternyata jangkrik goreng rasanya juga gurih.

Jangkrik Goreng (sumber gambar : https://blogunik.com/di-balik-beningnya-orang-orang-korea-ternyata-mereka-gemar-menyantap-makanan-ini-sobat/jangkrik-goreng/)
Jangkrik Goreng (sumber gambar : https://blogunik.com)
  1. Olan –Olan

Belum banyak literasi yang membahas olan-olan. Namun secara fisik, olan-olan adalah hewan berwarna putih, mirip ulat namun berukuran sebesar dan sepanjang  jempol jari tangan kadang  dalam bentuk lebih besar lagi. Tidak sebagaimana ulat yang berbulu dan  tinggal di daun dan memakan daun, olan-olan tidaklah berbulu,  lebih sering dijumpai di bawah tanah, biasanya di akar-akar pohon seperti akar pohon turi. Jika disentuh, dagingnya empuk/kenyal.  Saat ini, sangat langka mencari olan-olan. Masyarakat Gunungkidul juga tidak lagi mengkonsumsinya. Tapi pada jamannya, olan-olan pun bisa diolah menjadi masakan yang lezat. Setelah dibersihkan dengan cara dicuci bersih, olan-olan bisa digoreng atau dibakar atau dikukus. Begitu matang, rasanya ternyata enak.

Olan-olan (sumber gambar : http://sundulfoto.blogspot.com)
Olan-olan (sumber gambar : http://sundulfoto.blogspot.com)
  1. Kepompong Ulat Pohon Kweni

Masih ada satu makanan eksrim yang pernah diingat oleh redaksi ngangsukawruh, yakni ulat pohon Kweni. Apa itu kweni ? Kweni atau kuweni  adalah varian dari buah mangga, dengan wangi harum yang jauh lebih kuat dari buah mangga biasa. Salah satu perbedaan mencolok antara pohon kuweni dengan pohon mangga bisa diperhatikan dari warna bunganya. Jika mangga warna bunganya cenderung hijau keputihan, sementara warna bunga kuweni cenderung merah kecoklatan. Di pagi hari, buah kuweni yang masak biasanya akan jatuh dari pohonnya. Warna harumnya yang tercium, memudahkan kita untuk menemukan posisi dimana jatuhnya buah tersebut. Pada musim-musim tertentu, ada ulat-ulat berukuran besar berwarna kemerahan yang memakan daun-daun kuweni ini.  Saat berubah menjadi kepompong, warna kepompongnya berwarna keemasan. Nah kepompongnya ini bisa diolah menjadi masakan yang enak.

Ulat Sutera Emas (sumber gambar : http://www.jitunews.com)
Ulat Sutera Emas (sumber gambar : http://www.jitunews.com)

Redaksi ngangsukawruh mencoba mencari literasi terkait ulat dan kepompong pohon kuweni ini. Penelurusan kami justru menyimpulkan bahwa ulat pohon kuweni ini tidak lain adalah ulat sutera emas yang kulit kepompongnya bisa diolah menjadi bahan baku kain sutera, mengingat penampilan ulat dan kepompongnya sama persis, detailnya bisa dilihat di sini http://www.jitunews.com/read/4424/teknis-jitu-budidaya-ulat-sutera-emas-dan-cokelat. Namun bagaimana mungkin ulat sutera emas yang dalam literasi ini biasa berada di daun pohon mede bisa pindah ke daun pohon kuweni ? Mungkin justru ini menjadi tambahan informasi bahwa ternyata selain pohon mede, ulat sutera emas juga bisa berkembang di pohon kweni. (Danang)

 

 

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply