Waspadai Microsleep Ketika Perjalanan Mudik

Mudik (sumber gambar : http://industri.bisnis.com)
Mudik (sumber gambar : http://industri.bisnis.com)

Mudik adalah salah satu budaya di Indonesia ketika menjelang hari raya Idul Fitri. Pada masa ini, manusia berpindah secara bergelombang kembali ke daerahnya masing-masing. Secara ekonomi tentu ini keuntungan tersendiri, perputaran uang terjadi dalam waktu singkat. Perekonomian mengeliat. Terlebih sebagian besar penduduk Indonesia memilih menggunakan transportasi umum dibanding kendaraan pribadi. Namun meski begitu, pemudik yang memilih menggunakan kendaraan pribadi juga tidak bisa dibilang sedikit. Maka wajar saja kalau fenomena macet menjadi menu setiap tahun yang seolah wajib ‘dihidangkan’ saat lebaran.

Kecelakaan seolah menjadi fenomena yang bisa dimaklumi ketika moment ini. Macet yang mengular, mengemudi mobil berhari-hari tanpa ada yang bisa diajak bergantian, cuaca yang berubah-ubah, kelelahan sebelum perjalanan dan faktor lainnya seolah menjadi berita langganan penyebab kecelakaan lalu lintas. Selain hal tersebut diatas, satu faktor yang cukup hits menjadi penyebab kecelakaan adalah pengemudi yang mengantuk atau microsleep.

Apa itu microsleep? Pernahkah saat mengemudi tiba-tiba mengalami situasi terlelap seketika dalam beberapa detik? Hanya sekian detik, tapi tiba-tiba mobil atau kendaraan sudah keluar jalur. Rasanya hanya satu kedipan mata tapi ternyata truk yang tadinya seolah jauh sudah berada pas di depan kendaraan yang sedang kita tumpangi. Inilah yang disebut dengan microsleep, yakni kondisi dimana tubuh ‘tidur’ sesaat. Biasanya terjadi selama 1 hingga 30 detik. Namun selama waktu itu, tubuh berhenti mengolah pesan dari segala indra. Ibarat komputer, tubuh seolah sedang restart.

Masalah yang kemudian perlu diantisipasi adalah, akibat dari tertidur selama 30 detik tersebut. Dalam kondisi mengemudi dengan kecepatan 70 km/jam, microsleep selama 3 detik saja akan menyebabkan kendaraan menyusur tak terkendali  sejauh 60 meter. Bisa dibayangkan kalau kendaraan dalam kecepatan tinggi, 100 km/jam atau lebih misalnya. Berapa nyawa yang akan melayang ketika itu? Belum lagi kerugian materiil yang harus ditanggung.

Beberapa pengendara menganggap kondisi jalan yang lurus atau berkelok-kelok membuat kantuk bisa hilang karena adanya peningkatan adrenalin. Namun nyatanya, kondisi ini tidak berlaku lama. Justru kalau hal ini dipaksakan, akan membuat kondisi microsleep terjadi lebih lama. Lebih membahayakan tentu saja.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mencegah microsleep?  Ketika dirasa respon tubuh sudah cukup lelah, lebih baik berhenti, parkir mobil di tempat aman, dan tidur. Tidak perlu lama-lama. Sampai tubuh merasa lebih segar saja. Selain itu, bagi penumpang yang duduk disamping driver, bisa juga menjadi co-driver yang baik. Sering-seringlah ngobrol dengan driver. Apabila mulai terjadi hal yang aneh, misalnya kecepatan yang tidak konsisten, ingatkan pengemudi. Bagaimanapun keselamatan di jalan bukan hanya tanggungjawab kepolisian, namun kita bersama. Selamat mudik! (Sije)

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply