Review Film 212: The Power of Love

film_212 (aceh.tribunnews.com)
film_212 (aceh.tribunnews.com)

Siapa yang belum mendengar aksi 212? Seluruh warga Indonesia pasti masih terngiang dengan aksi yang digelar jutaan muslim ini. Belum lama ini, kejadian itu diangkat menjadi film. Disutradarai oleh Jastis Arimba dan ditulis oleh Asma Nadia. Mulai tanggal 9 Mei 2018 lalu, film ini resmi dirilis.

Film yang berdurasi 110 menit ini menceritakan titik balik hijrahnya seorang jurnalis bernama Rahmat lulusan Harvard University, yang diperankan oleh Fauzi Baadilla. Sebagai Jurnalis, Rahmat sangat idealis dengan tulisan-tulisan yang memojokkan umat muslim. Meskipun sering mendapat ancaman dari umat muslim, namun sifatnya yang kaku dan keras kepala tidak lantas menggetarkan keberaniannya dalam menulis. Rahmat selalu ditemani oleh satu-satunya teman di kantor tempat ia bekerja, namanya Adin yang diperankan oleh Adhin Abdul Hakim.

Tidak banyak cerita tentang kehidupan pribadi Rahmat. Sampai akhirnya ibunya meninggal. Adin sahabatnya pun bahkan baru mengetahui jika Rahmat masih memiliki orangtua. Rahmat memang jauh dari keluarganya. Dulu, ayahnya yang seorang Kyai memaksa Rahmat  masuk ke pesantren saat Ia kecil. Inilah salah satu alasannya.

Konflik mulai terjadi saat ayah Rahmat yang sudah tua dan sering sakit, ngotot ikut aksi, dengan melakukan perjalanan berjalan kaki dari Ciamis ke Jakarta. Hal ini memaksa Rahmat untuk ikut berjalan pula sambil mengawasi ayahnya. Kedua sosok ayah dan anak ini sebenarnya memiliki perasaan sayang, hanya saja sifat kegengsian yang tinggi dan keras kepala, membuat keduanya berjarak.

Ratusan jamaah dari Ciamis, beserta Rahmat dan Adin, telah berhari-hari kelelahan berjalan kaki. Teriknya matahari, dinginnya hujan, haus dan lapar terasa, namun itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk mengikuti aksi 212. Perubahan Rahmat dimulai saat ia berkumpul dengan jutaan manusia di Monas. Ia menjumpai berbagai hal yang bertolak belakang dengan pemikirannya. Selama ini Ia mengira bahwa Islam itu anarkis.

 

Kekurangan Film

Film ini memiliki alur yang datar dan kurang mengaduk emosi penonton. Perubahan sikap tokoh Rahmat kurang mulus dan cenderung tidak memiliki alasan yang kuat bagi hijrahnya seseorang. Film 212 The Power of Love terlalu banyak drama sehingga kurang menggambarkan  berbagai peristiwa yang terjadi saat aksi 212 sesungguhnya.

Beberapa poin penting tentang kehidupan masa lalu Rahmat, yang membuat dirinya membenci Islam, tidak digambarkan melalui adegan. Hanya percakapan tokoh. Take adegan yang sama dalam waktu lama hanya untuk menjelaskan suatu cerita masa lalu, terasa membosankan. Para pemeran film juga dinilai kurang menyampaikan pesan melalui ekspresi dan aktingnya. Beberapa lembaga pemerhati film memberikan penilaian cukup untuk film ini. Salah satunya IDN Times, secara keseluruhan Film 212 The Power Of Love hanya mendapat poin 2 dari 5.

 

Kelebihan Film

Film ini mampu menunjukkan pesan moral tentang bagaimana menjadi muslim yang baik. Islam yang penuh kasih sayang bukan menghakimi atau anarkis. Selain itu, beberapa tokoh yang berperan juga berhasil menuangkan guyonan untuk mencairkan suasana, terutama tokoh Adin.  Beberapa figuran yang dimainkan oleh tokoh-tokoh Indonesia, seperti Ridwan Kamil, Arie Untung, Asma Nadia, dan lainnya mampu mendongkrak eksistensi film ini.

 

Film 212 The Power of Love bersih dari unsur politik. Bukan film politik. Penasaran, apa penyebab Rahmat berhijrah? Jangan lupa tonton filmnya. (Alya)

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply