Mengenal Status Gunung Berapi

Gunung Merapi (sumber gambar : tempo.co.id)
Gunung Merapi (sumber gambar : tempo.co.id)

Hidup di bawah kaki gunung tentu ada konsekuensinya. Bagi mereka yang bekerja sebagai petani, tanah di sekitar kaki gunung sangat subur, menguntungkan untuk bercocok tanam. Namun, dibalik itu semua, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Sebagai gunung yang masih aktif, setiap sekian tahun sekali, gunung ini akan naik aktivitasnya,dan pada akhirnya menyemburkan apa yang ada di dalamnya. Akibatnya, kalau tidak diantisipasi dengan baik, bukan hanya korban harta benda saja, namun nyawa manusia bisa ikut terancam.

Jogja sendiri memiliki gunung berapi yang masih aktif hingga saat ini, Gunung Merapi. Untungnya gunung satu ini selalu memberikan tanda apabila akan memuntahkan isi perutnya. Bagi manusia, ini bisa menjadi tanda untuk mulai bersiap siaga mengantisipasi kondisi terburuk.



Akhir-akhir ini Gunung Merapi sedang punya ‘gawe’. Beberapa kali letusan freatik terlihat. Akibatnya, daerah yang berada di sekitar kaki gunung ini terdampak berupa hujan abu. Meski hanya tipis, namun ini cukup terlihat. Melihat kondisi ini, beberapa oknum tidak bertanggungjawab ada yang coba memanfaatkan situasi dengan menyebarkan isu atau informasi yang kurang tepat. Masyarakat yang awam dengan istilah kebencanaan banyak yang terkecoh. Akibatnya ada yang panik berlebihan. Melihat hal tersebut, ada baiknya sebagai orang awam kita belajar tentang status Gunung Merapi. Agar tidak terjebak berita bohong yang simpang siur beredar di masyarakat.

Status gunung berapi dibagi menjadi 4 tingkatan. Pertama normal. Kondisi normal dicirikan dengan tidak ada perubahan aktivitas secara visual, seismik, dan kejadian vulkanik. Kondisi ini merupakan level dasar. Dalam kondisi ini, gunung masih aman untuk digunakan beraktivitas dan tidak meletus hingga waktu tertentu. Meski begitu tetap ada ancaman bahaya berupa gas beracun pada kawasan kawah.

Kedua, status waspada. Kondisi ini menandakan peningkatan aktivitas gunung, mulai muncul aktivitas seismik, kejadian vulkanik, dan kenaikan aktivitas. Kondisi ini termasuk dalam kondisi di atas level normal. Perubahan aktivitas disini bisa disebabkan karena aktivitas magma, tektonik, dan hidrotermal. Beberapa gunung sampai mengalami erupsi pada level ini.

Ketiga, status siaga. Pada kondisi ini gunung berapi mulai mengalami peningkatan aktivitas seismik secara intensif, secara visual terjadi perubahan serta terjadi aktivitas di kawah gunung. Pada level ini, aktivitas yang terjadi dapat berlanjut menjadi letusan. Ancaman bahaya yang mengintai berupa erupsi namun tidak sampai membahayakan pemukiman penduduk.

Keempat, status awas. Pada kondisi ini gunung berapi segera atau sedang meletus. Biasanya dimulai dengan abu dan uap panas, lalu selanjutnya letusan dalam waktu kurang dari 24 jam. Dalam kondisi ini, ancaman bahaya akan meluas dan dapat mengancam pemukiman penduduk. Selama masuk status awas, dalam radius tertentu, gunung berapi tidak boleh didekati kecuali oleh mereka yang terlatih. Itu pun untuk keperluan evakuasi atau penelitian.

Hingga saat ini Gunung Merapi dalam status waspada. Meski beberapa warga sudah terlihat mengungsi, namun secara umum kondisi gunung ini masih cukup aman hingga ada pemberitahuan selanjutnya dari pihak terkait. (Sije)

Sumber:

Kompas.com

Edaran kementrian energi dan sumber daya mineral

Be the first to comment

Leave a Reply