Review Film Guru Ngaji

Film Guru Ngaji
Film Guru Ngaji

Perkembangan film positif di Indonesia semakin hari semakin menggembirakan.  Para produser film banyak yang mulai melirik film-film bertemakan islami. Sejak Ayat-ayat cinta 1 naik ke layar lebar, banyak novel-novel islami mulai dilirik untuk difilmkan. Ini tentu menjadi angin positif  dalam dunia film islami. Meski pun layarnya belum sebanyak film box office, namun harus terus kita dukung.

Belum lama ini, sebuah film berjudul “Guru Ngaji” yang berkisah tentang salah satu sisi yang jarang diperhatikan bahkan oleh umat islam sendiri, naik ke layar lebar.  Guru ngaji berkisah tentang seorang guru ngaji bernama Mukri yang diperankan oleh Donny Damara. Layaknya guru ngaji pada umumnya, Ia tidak pernah meminta imbalan dari aktivitasnya tersebut. Demi mencukupi kebutuhan keluarganya, Ia terpaksa berkerja sebagai badut. Pekerjaan ini hanya ia yang tahu, masyarakat  di desa Tempuran (tempat ia mengajar ngaji) bahkan keluarganya sendiri tidak ada yang tahu.

Aneka konflik yang sederhana tapi bikin gregetan muncul dalam film ini. Salah satunya ketika Mukri memberikan uang kepada Sopiah istrinya untuk membayar hutang kepada pamannya. Namun oleh sang istri, uang tersebut justru digunakan untuk membeli rok dan dan jilbab tanpa sepengetahuan Mukri. Cerita berlanjut ketika sang paman datang untuk menagih hutang. Karena sudah tidak ada uang, sepeda satu-satunya milik Mukri kemudian digunakan untuk membayar hutang.

Cara Mukri menyembunyikan pekerjaannya benar-benar rapi. Hingga suatu ketika ia ditawari oleh kepala desa yang diperankan oleh Tarzan untuk menjadi badut di pesta ulang tahun anaknya. Konflik mulai terjadi, sebab di waktu yang sama Ia juga diminta untuk memimpin doa di acara tersebut.  Disinilah “penyamarannya” terbongkar. Masyarakat akhirnya tahu bahwa Mukri sang guru ngaji yang selama ini disegani adalah badut yang ditertawai anak-anak.  Sejak saat ini ia kehilangan respek dari masyarakat di sekitarnya.  Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah Mukri berhenti jadi badut? Lalu dengan cara apa Ia mengidupi keluarganya?

Salah satu poin yang banyak ditonjolkan dalam film ini adalah kesederhanaan. Selain dari kisah mukri yang hidup seadanya. Latar dan setting tempat pedesaan menambah kuat kesan sederhana ynag coba dibentuk.  Beberapa karakter yang ditunjukkan dalam kisah ini juga cukup sederhana. Tokoh Mukri yang ingin membahagiakan keluarganya meski dengan menjadi badut. Ada juga tokoh Parmin diperankan oleh Ence Bagus, yang hanya ingin membeli motor dari uang yang ia kumpulkan selama menjadi badut.

Meski kisah yang disampaikan cukup sederhana, bukan berarti film ini tanpa cela. Misalnya, konflik yang dibangun dalam film ini terlalu singkat dan serasa ingin cepat selesai. Selain itu juga karakter yang dibentuk oleh Mukri kurang mencolok. Namun so far so good. Bagi yang mencari film yang pas untuk keluarga, film ini bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun sayangnya, film ini tidak bertahan lama di layar bioskop. Bagi warganet yang ingin melihat film ini, bisa mencari komunitas pecinta film untuk bisa melakukan nobar atau semacamnya. (Sije)

RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply