Kyai Slamet, Kerbau Pusaka Keraton Kasunanan Surakarta

Kerbau Bule (sumber gambar :perpusnas.go.id)
Kerbau Bule (sumber gambar :perpusnas.go.id)

Pernah mendengar kisah kerbau keramat dari Keraton Kausnanan Surakarta? Konon kerbau ini selalu diarak saat ritual kirab malam satu suro yang juga bertepatan dnegan tahun baru Islam. Apa yang membedakan dengan kerbau lain? Apakah hanya warnanya saja?

Kerbau “Bule” (kebo bule) milik Keraton Kasunanan Surakarta ini merupakan salah satu pusaka keraton. Dilansir dari perpusnas.go.id, kisah tentang kerbau ini tertulis dalam Babad Solo karya Raden Mas Said. Leluhur kebo bule ini adalah hewan kesayangan Paku Buwono II ketika istananya masih di Kartosuro. Warna kulitnya putih kemerah-merahan. Konon kebo ini merupakan hadiah dari Kyai Hasan Beshari dari Tegalsari, Ponorogo yang dimaksudkan untuk cucuk lampah atau pengawal bagi pusaka keraton yang bernama Kyai Slamet.  Kala itu, Paku Buwono II kembali dari pengungsian akibat peristiwa geger pecinan yang berakibat pembakaran Istana Kartosuro. Jadi, sebenarnya Kyai Slamet ini adalah nama untuk pusaka yang diarak. Seperti apa bentuk dan wujud pusakannya? Hingga saat ini masih dirahasiakan pihak keraton.



Banyak cerita berkembang tentang kebo bule ini. Pertama tentu saja penyebutannya yang hingga saat ini salah kaprah. Banyak masyarakat yang salah dan menganggap bahwa Kyai Slamet itu adalah nama sang kerbau. Kedua, saat Paku Buwono II mencari lokasi yang pas untuk istana ynag baru (tahun 1725), kebo bule dilepas dan biarkan berjalan diikuti para abdi dalem. Sampai akhirnya berhenti di tempat yang kini menjadi lokasi Keraton Kasunanan Surakarta.

Saat ini, kebo bule menjadi ikon ritual kirab pusaka di malam satu suro.  Bagi masyarakat di sekitar Solo, Boyolali, dan sekitarnya kebo bule sudah bukan sesuatu yang asing.  Pada malam satu suro, ribuan masyarakat akan tumpah ruah menunggu prosesi kirab berlangsung. Meski kirab biasanya baru dimulai saat tengah malam.  Ritual ini biasanya menunggu “kemauan” kebo bule. Kadang kebo bule Kyai Slamet ini baru mau keluar kandang pukul 01.00 dini hari. Tanpa digiring, kebo-kebo ini akan berjalan pada barisan paling depan, menuju ke halaman keraton dan diikuti dengan pusaka keraton. Inilah yang ditunggu-tunggu. Sayangnya banyak masyarakat yang menyikapi prosesi ini secara berlebihan. Bukan sekedar melihat saja, namun juga mengambil kotoran dari kebo bule. Bahkan tak jarang dijadikan rebutan.

Sekarang, keturunan kebo bule ini ada 12 ekor. Namun yang merupakan keturunan asli hanya 6, yakni Kyai Bodong, Joko Semengit, Debleng Sepuh, Manis Sepuh, Manis Muda, dan Debleng Sepuh. Pada saat prosesi kirab berlangsung, Kyai Bodong sang jantan tertua, “bertugas” sebagai pemimpin kirab. (Sije)

RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply