Sukmawati dan Kebangkitan Puisi

Bambang Nugroho
Bambang Nugroho

Oleh : Bambang Nugroho

Puisi tidak sekedar rangkaian kata indah dengan berbagai gaya bahasa baik itu pleonasme, hiperbola, metafora, personifikasi dan sebagainya. Namun ada makna dan misi yang akan disampaikan kepada pembaca atau pendengar oleh penyair atau penulisnya. Di era reformasi ini siapapun bebas berteriak melalui puisi, hampir tanpa larangan atau penangkapan terhadap penyairnya. Karena isi puisi yang keras penuh protes terhadap keadaan pemerintahan, sosial, politik maupun ekonomi.

Namun telah beberapa waktu sepeninggal WS Rendra, pembacaan puisi seperti sunyi. Hampir tidak ada atau sedikit yang mengapresiasi. Karena berpuisi tidak banyak menjanjikan keuntungan secara materi. Sekalipun karya-karya puisi masih tetap menghiasai surat kabar, bulletin, majalah, buku antologi puisi atau media sosial.



Bangkit

Di era sebelumnya menulis dan membaca puisi harus hati-hati, agar tidak dilarang atau ditangkap kemudian dipenjara seperti Sitor Situmorag, Mochtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, dan WS Rendra. Sementara penyair di masa Orde Baru Wiji Thukul, tak tahu rimbanya sampai sekarang karena karya puisinya yang secara keras menggugat terhadap penindasan kaum buruh.

Namun tiada angin tiada hujan akan adanya kegiatan pembacaan puisi. Tiba-tiba dunia perpuisian Indonesia seperti terguncang dan bangkit dari tidur nyenyaknya. Ketika Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisinya berjudul ‘Ibu Indonesia’ pada saat pagelaran 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 pada tanggal 28 Maret 2018 pekan lalu yang kemudian menimbulkan kontroversi.

Isi puisi itu dinilai telah menyinggung umat Islam ketika di sana ada diksi yang membandingkan suara adzan dengan kidung, tusuk konde dengan cadar dan ketidaktahuan akan syareat Islam. Sehingga menuai protes bahkan somasi serta pengaduan ke aparat hukum terhadap penyairnya, karena dinilai telah menistakan atau menghina agama Islam.

Karena puisi memang bisa ditafsirkan macam-macam oleh pembacanya. Bahkan penyairnya mempunyai tafsir tersendiri untuk mengelak dari suatu penafsiran tertentu yang dinilai mendiskriditkan seseorang, kelompok atau agama (mengandung unsur sara).

Sebagai seniman, penyair memang bebas menyuarakan isi hatinya tatkala melihat sesuatu keadaan yang tidak sesuai dengan norma, nilai atau hukum di tengah lingkungannya. Sehingga puisinya akan menjadi bahan inspirasi atau motivasi pembaca untuk melakukan sesuatu ke arah perbaikan.

Orang tentu akan sangat mengenal puisi bejudul Aku, Kerawang-Bekasi karya Chairil Anwar yang telah menginsapirasi dan memotivasi para pejuang kemerdekaan waktu itu. Bahkan puisi itu seperti masih terngiang sampai sekarang, jika membicarakan atau memperngati hari kemerdekaan Indonesia.

Hikmah

Gaung kidung puisi Sukmawati Soekarnoputri sepertinya tidak akan berhenti di Jakarta Convention Centre, tetapi bisa jadi sampai ke ruang sidang di pengadilan. Jika hasil penyidikan oleh aparat hukum memang memenuhi unsur pidananya. Sekalipun yang bersangkutan telah menyampaikan permohonan maafnya kepada umat Islam pada khususnya.

Sebagai muslim wajar jika tersinggung, geram bahkan marah ketika pertama mendengar dan membaca puisi itu. Tetapi sebagai orang yang lama belajar menulis puisi (geguritan, Jawa). Ingin mencoba berpikiran jernih dengan memberikan apresasi kepada Sukmawati Sukarnoputri karena dari pembacaan puisi itu dapat diambil hikmah, antara lain. Pertama, bisa menjadi tonggak kebangkitan perpuisian Indonesia setelah lama seperti terlindas oleh hiruk pikuknya orasi politik.

Kedua, menulis puisi memang bebas. Tetapi tetap harus memperhatikan nilai dan norma yang berlaku agar tidak menimbulkan penafsiran yang mengandung unsur sara termasuk peninstaan agama. Apalagi jika ditulis oleh seorang budayawan. Ketiga, menumbuhkan kembali semangat menulis puisi bagi berbagai kalangan. Sebagai ekspresi terhadap berbagai keadaan yang terjadi melalui karya sastra. Keempat, hati-hati ketika menulis puisi agar jangan sampai menjadi ujaran kebencian yang bisa dituntut di muka hukum. Saat ini karya puisi atu tulisan apapun, amat mudah dipublish dengan menguggah di media sosial.

Melalui pembacaan puisi ‘Ibu Indonesia’ karya Sukmawati Soekarnoputri, diharapkan puisi akan memiliki taji lagi sebagai alat kontrol sosial yang efektif serta menginspirasi kepada bangsa ini ke arah persatuan yang lebih baik. Bukan sebaliknya, puisi malah memecah belah bangsa yang berbhineka.

*)Bambang Nugroho, penggurit,
Ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Bantul ‘Paramarta’
Tinggal di Bangunjiwo

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply