Jilbab, Cadar, dan Adzan Untuk Bu Sukma

Oleh : Danang Nugroho

 

Bu Sukma..
Ini putri -putriku…
Baru berusia 8 dan 3 tahun…
Jilbab telah menutup rambut mereka…

Jika fisik yang engkau nilai, sungguh sebagai seorang ayah, tak kulihat dua putriku menjadi jelek, bagiku justru mereka semakin manis dan cantik dengan jilbabnya…Mereka anak anak yang shalihah, Bu. Sayang saudara, rajin belajar, sayang orang tuanya, lembut hatinya, mereka juga bermain seperti anak anak yang lain, mereka juga nonton doraemon atau upin ipin, mereka bukan anak aneh.

 

Bu Sukma…
Ini istriku….

Jilbab lebar menutup rambutnya…dan percayakah ibu, sebagai suami justru saya bertambah suka jika jilbab istri saya bertambah lebar, bahkan beberapa kali saya nyeletuk lho bu “Mi, sesekali pakai cadar mungkin seru” 😁. Bagi saya istri saya tambah cantik dan anggun saat berjilbab lebar.

Saya senang saat jalan berdua dengannya jika dia memilih memakai jilbab lebar, saya pun senang menggandeng tangannya. Tapi kalau saya lihat jilbabnya agak pendek ? Atau gamisnya tidak longgar ? saya merasa nggak nyaman, Bu. Khawatir jika ada lelaki lain memperhatikan istri saya, bu. Saya cemburu, kesal, jengkel.

 

Bu Sukma…
Ini kakak perempuanku…

Sosok berjilbab tangguh…saya melihatnya pertama kali berjilbab lebar saat saya baru kelas lima SD, bu…dan beliau sudah lulus SMEA dan sudah bekerja di Jakarta…dan saat itu saya takjub, karena kakak saya terlihat berbeda, sangat shalihah. Hingga kini kakak masih berjilbab, bu. Meski tiap hari harus berjibaku mengurus anak anaknya, terjun mengurus sawah dan ternak, aktif di desa, bahkan mengurus bapak ibuk saya yang sudah lanjut usia.

 



Bu Sukma…

Ini guru-guru sekolah dari putraku…

Mereka berjilbab..bahkan sebagian besar mereka bercadar… apakah aku takut jika anakku separuh hari melewatkan waktu bersama mereka ? Tidak, Bu. Karena mereka bukan orang jahat, mereka orang baik, mereka mengajak anakku bermain di sekolah, mengaji, melipat kertas, berlari, menangkap ikan, sholat, berhitung, dan membaca. Mereka menanamkan ilmu pada putraku untuk bekal masa depannya nanti.

 

Bu Sukma…

Adakah ibu tahu kenapa adzan begitu jauh lebih menarik daripada kidung dandang gula, gambuh, sinom, megatruh, gurindam, pantun, puisi atau apapun itu bu ?
Karena kidung hanya akan disenandungkan saat suasana hati mendukung, sedangkan adzan…dia akan selalu disuarakan, baik pagi maupun sore, siang maupun malam, pas hati sempit atau hati longgar, pas hati sedih atau bahagia..saat semua orang terjaga maupun sebagian besar tidur nyenyak.

 

Bu Sukma…

Adakah ibu tahu kenapa adzan jauh lebih menarik daripada kidung, bu ? Karena adzan tidak mengenal suku, warna kulit, asal bangsa, asal negara, dari pegunungan atau pinggir laut, dari daerah bermusim hujan hingga daerah bermusim salju, dari gedung pencakar langit, hingga di sebuah dusun di pinggiran hutan, sedangkan kidung bu…cuma sebagian suku di Indonesia yang mengenalnya…nggak sebanding kan bu ?

 

Bu Sukma…

Adakah ibu tahu kenapa adzan jauh lebih menarik daripada kidung bu ? Karena adzan telah melalui masa demi masa, abad demi abad, ia bisa melaluinya, konsisten, sehari lima kali, sedang kidung bu…ibu bisa menjawabnya sendiri…

 

Bu Sukma….

Adakah ibu tahu kenapa adzan jauh lebih menarik daripada kidung bu ? Karena anak lima tahun pun atau lebih kecil dari itu hingga orang orang tua di seluruh dunia bisa melafazkannya, sedangkan kidung bu…cobalah ibu mampir ke sekolah sekolah, atau ke jalan jalan, tanyakan ke anak anak, bisakah mereka berkidung ? Atau tanyalah bapak bapak pedagang keliling, bisakah mereka berkidung ?

 

Bu Sukma…

Adakah ibu tahu kenapa adzan jauh lebih menarik daripada kidung bu ? Karena kidung hanya untuk kepuasan rasa manusia sendiri, sedangkan adzan ? Adalah bentuk ketaatan pada Sang Pencipta alam semesta, Pencipta manusia yang telah memberikan aneka rasa dalam dada kita, Sang Pencipta yang telah membuat sebagian manusia bisa membuat kidung, sebagian bisa berkidung, sebagian tak bisa berkidung, sebagian tidak suka kidung, sebagian nggak kenal kidung, cuma kenal hidung.

 

Bu Sukma….

Di saat mata masih bisa melihat, telinga masih bisa mendengar, lisan masih bisa membaca…alih alih membandingkan dua hal yang berbeda dengan keterbatasan ilmu perbandingan kita, alangkah elok jika ibu mencoba mengenal dan memahami lebih dalam tentang jilbab, cadar, dan adzan…sebagaimana ibu sepertinya sangat mengenal dan memahami kidung dan konde…agar ibu tahu, banyak hal di dalam Islam yang jauh lebih indah dan damai dari sekedar konde dan kidung.

Semoga Allah memberikan hidayahNya untuk ibu..

 

*) Danang Nugroho, S.T

Adalah alumni Teknik Kimia UGM, bekerja di PT. Pertamina EP, dan owner dari portal berita www.ngangsukawruh.com

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply