Menengok Bioskop Indra, Bioskop Pertama di Jogja

Bisokop Indra (sumber gambar : http://jogja.tribunnews.com)
Bisokop Indra (sumber gambar : http://jogja.tribunnews.com)

Berkunjung ke Jogja memang belum lengkap rasanya kalau belum jalan-jalan di Malioboro. Seperti magnet, kawasan wisata ini mampu menarik minat wisatawan. Dari mana pun asalnya, rasanya belum puas kalau belum berfoto di bawah papan nama Malioboro.

Kawasan ini selain merupakan wisata modern, juga menyimpan bangunan-bangunan tua yang kental dengan nuansa budaya. Sebut saja kampung pecinan Ketandan yang berada di bagian timur Jalan Malioboro. Juga beberapa bangunan Belanda yang sayangnya beberapa diantaranya sudah mulai kehilangan bentuk aslinya. Modernisasi mengubah wajah bangunan-bangunan itu. Satu bangunan bersejarah yang hingga kini masih berdiri adalah bioskop Indra. Bioskop ini merupakan bioskop pertama yang ada di Kota Yogyakarta. Letaknya yang pas berada di seberang Pasar Beringharjo, membuatnya mudah dicari.

Berdiri pada tahun 1916, awalnya bioskop ini diberi nama Al Hambra. Bangunan yang didirikan oleh Nederlandsch Indische Bioscoop Exploitatie Maatschapij ini terdiri atas dua gedung. Masing-masing memiliki dua kelas yang berbeda, yaitu Al Hambra dan Mascot. Konon waktu itu, kelas sosial masih berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Kelas Al Hambra hanya diperuntukkan untuk mereka yang berada di kelas sosial tinggi, yakni bangsawan Keraton, bangsa-bangsa Eropa, dan pengusaha Tionghoa. Sedangkan Mascot, sudah bisa ditebak, ini diperuntukkan bagi mereka yang berada di kelas sosial pribumi. Dulu golongan pribumi masih dipandang rendah.

Nama Al Hambra terus digunakan sampai Indonesia merdeka. Usai, Indonesia merdeka, nama Al Hambra berganti menjadi Indra yang merupakan  akronim dari Indonesia Raya. Selain bioskop Indra, ada pula bioskop tua di Yogyakarta, yakni bioskop permata. Keduanya berada dibawah pengelolaan satu pihak.

Pada tahun 1983, manajemen bioskop Indra yang terletak di Jalan Sultan Agung beralih menjadi NV. PERFEBI (Peredaran Film dan Eksploitasi Bioskop Indonesia). Perusahaan yang mengelola 15 bioskop yang tersebar di beberapa wilayah di Pulau Jawa.

Seiring waktu berjalan, aktifitas perfilman di Yogyakarta semakin berkurang. Hingga akhirnya, bioskop ini tidak lagi difungsikan. Kini hak kepemilikkan sudah diambil alih oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekilas apabila berkunjung kesana, sudah tidak banyak yang bisa dilihat. Bangunannya kini banyak dikelilingi oleh tempat parkir mobil pengunjung Malioboro dan Pasar Beringharjo. (SJ)

 

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply