Pameran Batik Cerita di Balik Goresan Canting

Pameran_Batik_Keraton_Yogyakarta
Pameran_Batik_Keraton_Yogyakarta

Salah satu warisan budaya Indonesia yang ada di Yogyakarta adalah Batik. Beragam motif batik lahir dan berkembang di Kota Budaya ini. Bahkan Keraton Yogyakarta sendiri memiliki museum batik keraton yang berisi beragam batik yang pernah digunakan oleh pejabat tinggi dan kerabat Keraton dalam berbagai acara-acara penting. Konon motif-motif yang kini dipajang di museum ini hanya boleh dikenakan oleh kerabat keraton saja. Sebab itu siapapun yang masuk ke dalam museum, tidka diperkenankan mengambil gambar.

Pameran_Batik_Keraton_Yogyakarta
Pameran_Batik_Keraton_Yogyakarta

Dalam rangka mangayubagyo Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat ke-271, Taman Pintar menyelenggrakan Pameran Batik Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman. Mengangkat tema “Cerita di Balik Goresan Canting”, acara ini berlangsung dari 26 Februari-4 Maret 2018. Kurang lebih 20 batik eksklusive milik Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman akan dipamerkan dalam gelaran ini. Batik-batik yang memiliki falsafah hidup yang mempunyai makna yang cukup dalam ini akan dipajang di Dome Arena, Gedung Oval Taman Pintar.  Beberapa koleksi yang ditunjukkan dalam pameran ini antara lain batik-batik koleksi Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam. Batik-batik ini di desain dari naskah-naskah kuno Puro Pakualaman. Selain itu, ada pula batik “dodot” sepanjang 10 meter dari Keraton Yogyakarta. Batik ini merupakan batik yang dikenakan oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara pada saat Royal Wedding.



Hadir langsung pada saat pembukaan pameran, Ibu Wakil Gubernur DIY yang didampingi oleh salah satu puteri Sultan, GKR Bendara. Dalam akun media sosialnya, GKR Bendara menyebutkan, “Batik bukan hanyalah sebuah seni tetapi juga memiliki filosofi yang tinggi. Terdapat doa dan harapan si pembuat batik yang tercurahkan di dalamnya untuk si pemakai batik tersebut.”

 

Ia memberikan contoh, salah satu motif batik yang cukup tua dan melegenda di Yogyakarta adalah motif Parang Barong dan Kawung. Kedua motif ini merupakan karya dari Ibunda Sultan Agung. Apabila dihitung usia motif batik ini sudah mencapai 400 tahun. Selanjutnya Ia menghimbau agar tidak sembarangan menggunakan motif ini, misalnya digunakan untuk motif lantai atau semacamnya yang bisa dinjak-injak orang. Melihat saat ini kedua motif ini banyak diaplikasikan dalam design-design modern. Lebih-lebih saat ini dari pihak Keraton sudah cukup kesulitan untuk mencegah agar motif ini tidak digunakan untuk umum. (Sije)



Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply