Mengunjungi Rawa Pening : Antara Legenda dan Wisata

Rawa Pening
Rawa Pening

Jaman dahulu, ada seorang gadis bernama Endang Sawitri. Suatu ketika Endang Sawitri tengah mengandung. Setelah Sembilan bulan kemudian, lahirlah bayi yang ada di janinnya. Alih –alih berwujud manusia, bayi ini berwujud naga. Naga itu diberi nama Baru Klinting.

Saat usia remaja, Baru Klinting mulai menanyakan dimana ayah kandungnya. Ibunya kemudian menjelaskan bahwa ayahnya adalah seorang raja, yang saat ini tengah  bertapa di lereng Gung Telomoyo. Keinginan kuat Baru Klinting yang ingin bertemu ayahnya tak bisa dicegah oleh Endang Sawitri. Maka berangkatlah sang naga Baru Klinting ini hendak mengunjungi sang ayah dengan membawa sebuah klintingan. Sang ibu menyatakan bahwa Klintingan itu adalah tanda pengenal pemberian sang ayah.



Di lereng gunung Telomoyo, Baru Klinting pun bertemu dengan ayahnya. Namun sang ayah yang belum yakin bahwa Baru Klinting adalah anaknya, meminta syarat Baru Klinting harus bisa mengelilingi Gunung Telomoyo baru kemudian ayahnya mau mengakui Baru Klinting sebagai anaknya. Ternyata Baru Klinting bisa memenuhi syarat tersebut. Selanjutnya sang ayah meminta Baru Klinting untuk bertapa di lereng Gunung Telomoyo.

 

Suatu hari para penduduk desa sedang pesta sedekah bumi sehabis panen. Mereka beramai –ramai mencari hewan di hutan untuk disembelih, namun tidak ada hasil. Mereka malah menemukan seekor naga yang sedang berdiam diri. Maka naga itupun kemudian disembelih beramai-ramai, lalu dibawa pulang ke desa.

Beberapa Gunung yang mengelilingi Rawa Pening
Beberapa Gunung yang mengelilingi Rawa Pening

Di desa yang sedang pesta, datanglah seorang anak berpakaian compang camping dan berbau amis, anak tersebut adalah jelmaan Baru Klinting. Si anak berharap bisa mendapatkan makanan. Namun tidak seorangpun memberinya makanan malah mengusir anak tersebut.  Anak tersebut kemudian pergi dan bertemu seorang nenek. Nenek itu memberinya makanan. Sang anak kemudian mengatakan agar si nenek naik ke dalam lumping lesung apabila terdengan bunyi bergemuruh.

Si anak kemudian kembali ke tempat warga mengadakan pesta, namun lagi tidak ada seorangpun yang mengasihaninya malah menghinanya. Karena marah, si anak kemudian mencabut sebuah lidi yang sebelumnya ia tancapkan di tanah. Mendadak dari cabutan lidi tersebut keluar air yang makin lama makin banyak dan terus banyak hingga menenggelamkan seluruh desa termasuk warganya, kecuali si nenek baik budi yang pernah menolongnya. Air luas ini memiliki air  yang jernih, bening, sehingga kemudian diberi nama rawa Pening.



Yup, kamu percaya dengan cerita di atas ? Cerita di atas adalah legenda terjadinya Rawa Pening, yang banyak diketahui oleh masyarakat di Jawa Tengah. Sebagaimana sebuah legenda, tentu kebenarannya diragukan karena tidak bisa dibuktikan. Namun yang sudah pasti fakta  adalah tentang keberadaan rawa pening sendiri.

Rawa Pening adalah sebuah danau alami. Dengan luas sekitar 2.670 hektare, Rawa Pening menempati area di empat kecamatan sekaligus : Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru.

Dari sejak dulu, Rawa Pening telah menjadi salah satu tempat kunjungan wisata di Jawa Tengah. Dengan cakupan area danau yang luas, masyarakat akan dimanjakan dengan paket wisata mengelilingi danau Rawa Pening, menikmati pemandangan air danau di atas perahu sembari dielus oleh hembusan angin sepoi sepoi yang sejuk membelai kulit wajah.

Pengunjung antri hendak naik perahu mengelilingi Rawa Pening
Pengunjung antri hendak naik perahu mengelilingi Rawa Pening

Berada di tengah –tengah Rawa Pening, di saat hari cerah kita akan menyadari bahwa danau alami ini dikepung oleh beberapa pegunungan sekaligus : Gunung Merbabu, Gunung Ungaran, Gunung Telomoyo, Gunung Sumbing, dan gunung Sindoro. Sehingga bisa dikatakan Rawa Pening adalah danau yang dikelilingi banyak gunung.

Untuk menikmati rawa pening, kita bisa parkir kendaraan kita di Kampung Rawa. Kampung Rawa berada di pinggiran Rawa pening. Dari pintu masuk Kampung Rawa, kita bisa menyewa perahu seharga 100 ribu rupiah dengan kapasitas sekitar 10 orang, dan setelah itu kita bisa puas mengelilingi Rawa Pening.

Di luar wisata perahu, di Kampung Rawa juga banyak terdapat pedagang makanan, terdapat pula wisata pemancingan, warung makan –warung makan dengan menu ikan air tawar, serta berbagai wahana bermain anak. Lumayan complete sebagai sebuah tempat wisata keluarga.

Lesehan dan Pemancingan di Kampung Rawa
Lesehan dan Pemancingan di Kampung Rawa

Berkunjung ke Rawa Pening tidaklah sulit. Dari arah Jogja sekitar 3 jam perjalanan darat menggunakan mobil, kita sudah bisa sampai di Rawa Pening. Sedangkan dari arah kota Semarang, Rawa pening bisa kita capai dengan perjalanan menggunakan mobil sekitar 1 jam perjalanan.  Kitapun juga bisa menuju ke Rawa Pening dari arah Solo. Jalur menuju ke Rawa Pening baik dari Jogja, Semarang, maupun Solo relatif mudah dilalui. Sebagian besar jalannya lebar, lurus  dan tidak banyak naik turun apalagi belokan.

Jangan lupa, jika ke Rawa Pening tidak ada salahnya untuk berkunjung ke beberapa tempat wisata lainnya yang nggak jauh dari Rawa Pening. Yang paling dekat lokasinya adalah Museum Kereta Ambarawa. Kemudian ada juga wisata Cimory On The Valley dan Bandungan di Ungaran.Dijamin pikiran kita menjadi fresh sesudahnya. Tunggu apalagi ? saatnya wisata ke sana..yuk  ! ( Danang)

 

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Rawa_Pening

http://jateng.tribunnews.com/2016/05/04/inilah-kisah-lengkap-baru-klinting-asal-usul-rawa-pening



Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply