Angkringan Masjid Joyopranan, Ketika Budaya dan Agama Dipertemukan

Angkringan_Masjid_Joyopranan_Kotagede_yogyakarta
Angkringan_Masjid_Joyopranan_Kotagede_yogyakarta

Jogja sebagai kota budaya memiliki ikon-ikon khusus. Selain tugu Jogja, Keraton, hall lain yang juga jogja banget adalah angkringan. Meski sebenarnya di beberapa daerah di sekitar Jogja juga ada yang serupa namun kesan yang terasa beda. Bagi masyarakat Jogja, angkringan sudah menjadi bagian dari budaya. Hampir di setiap sudut kota pasti ada gerobak remang-remang yang ditutup dengan tenda atau sekedar layar berwarna biru. Didalamnya sudah berjejer aneka kudapan khas seperti gorengan, sate usus, kerupuk, kacang rebus, dan yang tidak boleh ketinggalan tentu saja nasi kucing.

Saking banyaknya angkringan di Jogja, beberapa pemilik angkringan mencoba untuk membuat inovasi demi menarik konsumen. Mulai dari membuat menu-menu unik seperti kopi joss, hingga membuat angkringan menjadi lebih modern dengan sedikit tambahan fasilitas. Namun sebagian besar tetap dengan kesederhanaan dan kebersahajaan.



Bicara tentang angkringan, di salah satu sudut Kota Gede, terdapat satu angkringan yang unik. Bukan bentuknya melainkan asal muasal dan cara mengelolanya. Tidak seperti angkringan lain yang biasanya ada di pinggir jalan. Angkringan ini berada di depan Masjid Joyopranan. Atas sebab itu, angkringan tersebut oleh masyarakat setempat disebut dengan angkringan Masjid Joyopranan. Bukan hanya secara letak, namun secara kepemilikkan, angkringan ini memang milik masjid.

Masyarakat di sekitar masjid sengaja ‘mendirikan’ angkringan ini dengan tujuan untuk meramaikan masjid. “Jadi, angkringan ini memang sengaja dibuat agar masyarakat sekitar lebih dekat dengan masjid,” ujar Rara selaku Bu Carik wilayah setempat.

Angkringan Masjid Joyopranan
Angkringan Masjid Joyopranan

Angkringan para Ibu

Berbeda dengan angkringan lain yang biasanya didominasi bapak-bapak. Angkringan masjid Joyopranan ini justru lebih sering disambangi oleh ibu-ibu dan anak-anak. Lebih-lebih pada hari tertentu. Misalnya pada malam ahad, angkringan akan penuh dengan anak-anak. Hal ini dikarenakan malam ahad adalah waktunya anak-anak ngaji. Usai ngaji anak-anak akan dibagi kupon yang bisa ditukarkan dengan menu yang ada di angkringan. Meski nilainya kecil, hanya 2000 atau 3000, namun ini sudah membuat anak-anak termotivasi untuk terus mengaji.
Berbeda kalau malam senin atau ahad malam. Waktunya ibu-ibu beraksi. Pada waktu ini, gilirannya ibu-ibu mengaji. Usai mengaji, tidak mau kalah dengan anak-anak, kupon angkringan juga dibagikan bagi para ibu yang mengaji. Lalu kapan waktunya bapak-bapak?

“Kalau di hari biasanya, waktu sore biasanya anak-anak yang mengerubuti. Kalau malam habis magrib, giliran ibu-ibu. Habis isya’ atau dari jam 20.00 WIB keatas, waktunya bapak-bapak,” tambah Rara.

Menu Nasi Kucing di angkringan Joyopranan
Menu Nasi Kucing di angkringan Joyopranan

Soal harga bagaimana? Dijamin murah. Satu bungkus nasi kucing dijual 2000 saja. Aneka gorengan dibanderol mulai 500 rupiah. Sedangkan untuk beragam minuman hangat, dipatok harga mulai 2000 rupiah. Asyiknya lagi, wedang disini alami. Diracik dari bahan asli, bukan dari minuman sachet instan. Gulanya jug abisa pilih mau pakai gula batu atau gula pasir.

Tertarik untuk mengadopsi ide ini? Ingin melihat langsung lebih dulu? Datang saja ke Masjid Joyopranan Kota Gede. Letaknya dari PPasar Legi Kota Gede ke timur, lurus kurang lebih 300 meter, belok kanan. Lurus saja sampai ada papan penunjuk nama “Masjid Joyopranan”, lalu ikuti jalan. Namun karena tipikal pemukiman di kawasan ini adalah rumah-rumah yang berhimpitan, menuju ke angkringan ini harus melalui lorong-lorong kecil. Sehingga hanya bisa dijangkau menggunakan kendaraan roda dua saja. (Sije)



RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply