Dinaspora Sleman Gelar Kejuaraan Panjat Tebing Tingkat Pelajar 2018

Kejuaraan Panjat tebing Sleman
Kejuaraan Panjat tebing Sleman

Menjelang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) 2018 bulan Maret Mendatang, Dinas Pemuda dan Olahraga (DINASPORA) Sleman bersiap. Beberapa Cabang Olahraga (Cabor) sudah mulai melakukan pencarian bibit-bibit unggul untuk nantinya dijadikan perwakilan Kabupaten Sleman dalam POPDA 2018 yang akan dilaksanakan 19-22 Maret mendatang.

Cabor yang sudah bersiap salah satunya panjat tebing. Bertempat di venue Fitriyani climbing arena yang berada di kompleks GOR Klebengan. Sejumlah pelajar hadir dan unjuk kemampuan dalam bidang panjat tebing. Sedikit uraian, nama venue wall climbing ini diambil dari nama salah satu atlit terbaik Sleman yang pernah membawa pulang Emas dalam SEA Games 2011 cabang olahraga panjat tebing.

Peserta Kejuaraan Panjat Tebing
Peserta Kejuaraan Panjat Tebing

Pagi itu, berbeda dari hari biasanya, Fitriyani climbing arena yang biasanya sepi, kecuali pada jadwal latihan, mendadak ramai. Beberapa anak terlihat menggunakan nomor punggung dan melakukan pemanasan ringan. Beberapa orang tua terlihat mendampingi dari kejauhan. Para juri juga telah duduk di meja yang telah disiapkan di depan jalur pemanjatan. Hari ini (11/2/2018) akan digelar “Kejuaraan Panjat Tebing Tingkat Pelajar Kabupaten Sleman 2018”.



Sebanyak 22 peserta yang berusia kurang dari 18 tahun siap untuk adu kegesitan dalam menaklukkan dinding panjat. Jumlah ini terbagi menjadi 10 peserta putri dan 12 putra. Beberapa merupakan binaan FPTI (Federasi Panjat Tebing Indonesia) Sleman. Namun ada juga yang dari Kota Yogyakarta. “Karena kejuaraan ini salah satu tujuannya untuk mencari bibit unggul dari Sleman, peserta luar kabupaten meski juara dalam perlombaan, mereka dianggap eksebisi alias tidak bisa jadi perwakilan Sleman di kejuaraan POPDA, ”ujar Retno salah satu mantan atlit Sleman yang kini jadi pengurus KONI JOGJA.

Karena syarat dari panitia hanya batasan maksimal umur, dalam kejuaraan ini ada beberapa peserta yang usianya sangat belia. Salah satunya yaitu Diwangkara Tathya Aji (7). Meski ukuran tubuhnya bisa dibilang “mungil” namun semangatnya bisa diuji. Peserta termuda yang masih duduk di bangku kelas 1 sekolah di SD Negeri Cebongan, Mlati, Sleman, ini tetap bertahan saat uji kemampuan di kategori speed meski saat itu lawan mainnya yang sudah berusia SMA sudah selesai lebih dulu. Ia tidak menyerah hingga akhirnya peluit tanpa habisnya waktu ditiup. (SJ)

RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply