Jemparingan, Olahraga Panahan Khas Kerajaan yang Terus Dilestarikan

Jemparingan_siliran (sumber gambar : IG resmi Jemparingan Siliran)
Jemparingan_siliran (sumber gambar : IG resmi Jemparingan Siliran)

Dewasa ini beberapa jenis olahraga mulai digandrungi. Selain sepak bola yang memang sejak dahulu banyak diminati, bersepeda dan panahan juga turut digemari. Di Jogja, perkembangan olahraga panahan tidak kalah serunya, hadist yang menyebutkan bahwa jenis permainan ini merupakan sunnah Nabi, membuat beberapa kelompok maayarakat berbondong untuk mempelajari olahraga ini. Namun siapa sangka, jauh sebelum olahraga panahan booming seperti sekarang ini, di Jogja sudah ada panahan sejak ratusan tahun yang lalu, dikenal dengan sebutan Jemparingan.

Berbeda dengan olahraga  memanah pada umumnya, olahraga yang disebut dengan jemparingan ini memiliki filosofi, sejarah, serta teknik tersendiri. Konon, olahraga kuno khas Yogyakarta ini dulunya dimainkan oleh para bangsawan kerajaan beserta keluarganya. Bahkan dulu kerajaan Mataram pun pernah menyelanggarakan perlombaan wajib di wilayah kekuasaannya.



Dulu, salah satu tujuan diadakan tradisi jemparingan di antara para prajurit Mataram adalah untuk melatih ketajamam konsentrasi terkhusus dalam keahlian melesatkan anak panah. Jemparingan terus berkembang sampai ke kerajaan tetangga. Tradisi jemparingan terus menjamur mengingat olahraga ini merupakan olahraga fisik juga jiwa.

Seiring waktu berjalan, tradisi ini terus berkembang. Bukan lagi keluarga kerajaan yang boleh memainkannya. Rakyat jelata kala itu mulai banyak yang menjadikan jemparingan sebagai wahana hiburan serta pelestarian budaya. Meski sempat meredup, kini olahraga kuno ini mulai berkembang lagi. Beberapa komunitas dibentuk untuk terus menumbuhkembangkan jemparingan. Misalnya komunitas Jemparingan Siliran dan Jemparingan Jogja. Bahkan saat ini, bukan hanya orang tua yang gemar memainkannya, beberapa anak muda dan anak kecil pun turut serta melestarikan.

Olahraga Jemparingan Khas Jogja (sumber gambar : IG resmi Jemparingan Siliran)
Olahraga Jemparingan Khas Jogja (sumber gambar : IG resmi Jemparingan Siliran)

Berbeda dengan olahraga panahan pada umumnya yang dilakukan dengan posisi berdiri. Jemparingan dilakukan dalam posisi duduk bersila menghadap ke barat. Posisi ini bukan tanpa alasan. Konon, awalnya posisi ini dimulai dari kebiasaan para bangsawan dahulu kala yang biasanya memanah sambil membicarakan bisnis sambil menikmati kopi, teh, dan makanan ringan. Sehingga, posisi duduk dianggap paling nyaman. Demi menjaga keotentikan, selama memanah, peserta juga diwajibkan untuk mengenakan pakaian adat jawa lengkap. Bagi laki-laki mengenakan beskap, jarik, bahkan ada yang sampai mengenakan keris. Sedang untuk peserta perempuan, mengenakan jarik dan kebaya.

Selain baju yang dikenakan dan posisi tubuh saat permainan, cara ‘bermain’ pun berbeda. Apabila panahan biasa menggunakan busur dengan bahan metalik, jemparingan memanfaatkan bahan alami berupa bambu untuk membuat busurnya. Busur bambu ini ditarik ke arah kepala lantas ditembakkan ke sasaran yang berupa bedor atau orang-orangan. Jarak antara pemain dengan target kurang lebih 30 meter.

Perempuan pun ikut olahraga Jemparingan (sumber gambar : IG resmi Jemparingan Siliran)
Perempuan pun ikut olahraga Jemparingan (sumber gambar : IG resmi Jemparingan Siliran)

Bagi yang sedang butuh latihan konsentrasi sembari memelihara tradisi, jemparingan bisa jadi salah satu pilihan. Konon katanya, hasil tembakan tergantung suasana hati dan jiwa si pemain. Bila sedang dalam kondisi baik, maka hasilnya pun baik. Begitu pula sebaliknya. Hingga saat ini Jemparingan masih bisa kita temui di Jogja. Selain latihan rutin oleh komunitas-komunitas tertentu, kita juga bisa melihat Jemparingan pada lomba-lomba yang diadakan masyarakat Jogja, misalnya lomba peringatan kemerdekaan.

Penasaran ingin melihat langsung? Bulan Februari ini tepatnya tanggal 9 Februari Kadipaten Pakualaman akan menyelenggarakan kompetisi Jemparingan dalam rangka peringatan hari jadi. Bagi anda yang tertarik, silakan langsung hadir di Lapangan Kridosono, Kota Yogyakarta. (Sije)



Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply