Konkrit! UGM Kirimkan Tim untuk Bantu Tangani Tim Gizi Buruk Asmat

Team UGM yang menuju Papua (sumber gambar : www.ugm.ac.id)
Team UGM yang menuju Papua (sumber gambar : www.ugm.ac.id)

Bagi pemerhati berita nasional, kabar tentang gizi buruk yang terjadi di Papua tentu sudah bukan satu hal asing lagi. Ditengah aneka tindakan yang coba ditorehkan kabinet pemerintahan Presiden Jokowi, kabar tidak menyenangkan justru terdengar dari salah satu wilayah timur Indonesia itu. Dikabarkan bahwa terdapat kasus lebih dari 70 anak meninggal akibat penyakit campak dan beberapa orang lainnya menyusul akibat gizi buruk.

Menyikapi hal tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai salah satu universitas tertua di Indonesia, langsung ambil sikap. Sebanyak 7 orang yang tergabung dalam Disaster Response Unit (DERU) dikirim untuk membantu langsung. Dipimpin oleh Dr. Rachmawan Budiarto selaku Sekertaris Direktorat Pengabdian Masyarakat UGM, serta Nanung Agus Fitriyanto, Ph.D selaku Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat.



Dilansir dari ugm.ac.id, pengiriman tim berlangsung dua gelombang. Nantinya tim ini akan berkolaborasi dengan kementrian kesehatan, TNI, serta pemerintah kabupaten setempat. Hingga saat ini, beberapa hal yang sudah dilakukan antara lain melakukan koordinasi aktif dengan satgas yang dipimpin oleh Danrem dan Bupati wilayah setempat. Selain itu tim juga telah memasang sel surya 200 Wp di puskesmas distrik Sarwaema guna menunjang layanan kesehatan. Distrik Sarwaema sendiri letaknya cukup jauh dari Agats. Menuju ke tempat ini butuh waktu sekitar 50 menit menggunakan speed boats. Hingga saat ini, dari 23 distrik yang ada, hanya dua distrik yang sudah terjangkau oleh PLN. Sisanya maish menggunakan genset sebagai salah satu cara untuk menghidupkan aliran listrik.

Team DERU UGM yang sudah diberangkatkan ke Papua
Team DERU UGM yang sudah diberangkatkan ke Papua (sumber gambar : www.ugm.ac.id)

Beragam kisah perjuangan mewarnai perjalanan tim DERU menuju lokasi. Mulai dari terombang-ambing di laut lepas selama 4 jam, hingga akhirnya memilih untuk menginap di sbeuah pulau tak berpenghuni. Itu pun mereka haus mendirikan tenda di sekitar sungai dan terus siaga karena sungai-sungai yang mereka susuri masih banyak dihuni oleh buaya. Baru keesokan harinya perjalanan dilanjutkan setelah dirasa kondisi sudah cukup baik.

Sampai di Agats pada tanggal 26 Januari 2018 lalu, tim kemudian berpencar untuk melakukan penanganan KLB campak dan gizi buruk serta memetakan berbagai persoalan lain yang kini juga dihadapi warga Asmat. Pemetaan ini dimaksudkan untuk pengiriman mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari UGM yang direncakanan akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Hingga berita ini dituliskan, UGM telah merilis data terbaru tentang jumlah korban, yakni sebanyak 77 anak meninggal yang sebagian besar diakibatkan karena campak dan sebagian lain karena gizi buruk.

Menurut Dr. Hendro Wartatmo, Sp.BD salah satu anggota DERU, korban yang meninggal akibat campak disebabkan karena kurang gizi. Kurangnya asupan mengakibatkan daya tahan tubuh lemah sehingga mudah terinfeksi campak dan virus lain. Hal ini kemudian ditambah dengan lingkungan yang tidak cukup bersih, lebih-lebih kondisi tempat tinggal sebagian besar masyarakat disini berada di daerah rawa, sehingga kondisi sanitasi lingkungannya cukup memprihatinkan. Belum lagi kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan kesehatan juga masih minim. Dengan dikirimkannya Tim DERU ini semoga menjadi awal dari penyelesaian persoalan kesehatan Asmat, Papua. (Sije)



RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply