Ada Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta di Kampus UGM

Kang_Abik_Stadium_generale_Fakultas_Filsafat_UGM
Kang_Abik_Stadium_generale_Fakultas_Filsafat_UGM

Siapa yang tidak kenal Habiburrahman El-Shirazy, penulis yang sudah malang melintang dalam dunia literasi keislaman ini sukses dengan beberapa novelnya yang tembus best seller nasional. Bahkan beberapa karyanya juga sempat difilmkan dan sukses mendulang apresiasi positif dari masyarakat Indonesia. Belum lama ini novelnya yang berjudul ayat-ayat cinta 2 juga telah naik ke layar lebar Indonesia. Kesan atas filmnya membekas dalam memori para penikmat film. Terbukti dengan banyaknya meme kocak yang mengambil salah satu adegan film.

Atas kesuksesannya tersebut, Ia kerap diundang untuk mengisi beragam acara kepenulisan. Bahkan belum lama ini, tepatnya senin tanggal 5 Januari kemarin, Fakultas Filsafat UGM mengundang Kang Abik –begitu Ia biasa disapa, dalam stadium generale Fakultas Filsafat UGM. Bertajuk “proses kreatif-intuitif dalam dunia kepenulisan” acara yang terbuka untuk umum ini dipadati oleh penggemar penulis novel islami ini. Bahkan beberapa pengunjung sampai tidak mendapatkan tempat duduk. Acara ini sendiri digelar dalam rangka pembukaan perkuliahan di fakultas filsafat UGM.



Pada kesempatan ini, Ia berbagi tentang pentingnya intuitif dalam proses kreatif penulisan sebuah karya. Ia mengungkapkan, intuisi akan memberikan kelebihan tersendiri bagi sebuah karya tulis. Harapannya, mahasiswa yang hadir dapat mengembangkan kemampuan intuitifnya dalam membuat tulisan.

Dalam gelaran yang diselenggarakan di Auditorium Fak. Filsafat UGM ini, Kang Abik juga menceritakan proses kreatifnya dalam menulis buku-bukunya. Selama nyantri di Pondok Pesantren Futuhiyah, Mranggen, Demak, Ia banyak mendapatkan inspirasi. Hingga kemudian Ia lanjut belajar di MAPK Surakarta, dan kemudian semakin dalam melalui pembelajaran tradisi literasi Islam di Universitas Al-Azhar Kairo.

Tentang pengalamannya di Kairo, Ia menceritakan salah satu keinginannya belajar di kota ini adalah penulis favoritnya, “Saya sengaja pergi ke Kairo, karena saya ingin menginjakkan kaki di tempat penulis pujaan saya, Syaikh Jalaluddin as-Suyuthi. Imam Syuthi adalah salah satu penulis idola saya karena ia menulis lebih dari 600 buku. Hidupnya sangat produktif,” Ujar Kang Abik. Disamping intuisi, Kang Abik juga juga menekankan untuk mematangkan konsep ide sebelum mulai menulis.

Lalu mengapa Kang Abik yang diundang dalam stadium generale Fakultas Filsafat UGM? Dilansir dari ugm.ac.id, hal ini dikarenakan pentingnya tulis menulis bagi seorang filsuf. Sebagian besar filsuf-filsuf dari masa Yunani hingga saat ini banyak dikenal oleh masyarakat melalui tulisan-tulisannya. Dengan hadirnya Kang ABik, diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi mahasiswa-mahasiswa Fakultas Fiksafat UGM.

Hadir dan memberikan sambutan dalam kesempatan ini, Dekan Fakultas Filsafat UGM, Dr. Arqom Kuswanjono, dalam sambutannya menyampaikan menulis adalah kunci peradaban. Besar harapannya, dengan didatangkannya penulis produktif seperti Kang Abik, mahasiswa Fakultas Filsafat banyak melahirkan karya-karya filsafat yang bermutu tinggi. (Sije)



RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply