Fenomena Lapar Ayah

(sumber gambar : http://obrazky.vychytane.sk)
Fenomena Lapar Ayah (sumber gambar : http://obrazky.vychytane.sk)

Suatu ketika, ketika Nabi sedang salat, Hasan dan Kusain mengganggunya. Namun, Ia tidak menyuruh orang lain (atau kaum perempuan) untuk menjaga kedua cucunya yang masih anak-anak. Sebab, bagi Nabi, setiap waktu bersama kedua cucunya adalah kesempatan untuk mendidik, termasuk ketika salat.

Hal yang sangat berbeda kita temukan di Indonesia. Banyak anak-anak di Negara ini kehilangan figure ayahnya. Tidak jarang, para ayah tersebut merasa selesai tugas dan kewajiban setelah memberikan nafkah berupa uang untuk kehidupan keluarganya. Tidak terhitung jari berapa keluarga yang satu rumah namun tidak pernah ada komunikasi.



Father Hunger

Fenomena lapar ayah (father hunger). Saat ini banyak keluarga yang terjangkit fenomena ini.  Salah satu sebabnya karena sosok kepala keluarga ini  kurang banyak berperan dalam pendidikan anak di usia dini. Maka tak heran kalau sekarang ini banyak anak lelaki yang justru menjadi feminin. Hal ini berlaku juga sebaliknya, anak perempuan menjadi tomboy karena berusaha menggantikan peran ayahnya terhadap ibunya.

Fenomena “lapar ayah” ini dapat dibagi dua golongan:

  1. Ketidakhadiran sang ayah secara fisik, misalnya: ayah yang bercerai dengan ibu atau meninggal dunia
  2. Ayah yang hadir, tetapi tidak banyak terlibat. Meski tinggal serumah, tetapi ia tidak memiliki banyak waktu untuk bergaul akrab dengan anak-anak.

Minimnya perhatian ayah kepada anak lelaki dapat mengakibatkan sang anak akan memiripkan dirinya dengan peran yang dilakukan ibunya. Terlebih, seperti yang kita tahu, peran guru di Taman Kanak-kanak atau PAUD mayoritas dipegang oleh perempuan. Ini kemudian menambah perbendaharaan daftar figure perempuan untuk ditiru anak lelaki.

Jangan kaget kalau akhirnya menemukan fakta bahwa akar persoalan dari semua persoalan dari kerusakan remaja di Indonesia adalah karena ayah. Ayah dirumah namun tidak menjalankan fungsi dan perannya. Kepada anak laki-laki tidak ditanamkan jiwa kemaskulinan. Sehingga terjadi distorsi makna keberanian. Makna uji nyali kemudian berubah menjadi acara-acara hura-hura semacam balap motor liar. Hal ini dimungkinkan karena ayahnya tidak mengajarkan nilai tauhid. Tidak pernah menyampaikan kepada anaknya.”Wahai anakku, orang yang kuat adalah bukan orang yang menang dalam bergulat, tapi yang mampu bersabar ketika dalam kondisi emosi.”

Ayah sibuk dengan mimpi dan hobinya. Keliru memahami kebutuhan anak. Bukan mobil-mobilan, bukan mainan Barbie. Namun seberapa banyak waktu untuk anaknya, seberapa sering mencium keningnya, seberapa banyak memeluk anak laki-lakinya. Seberapa besar kata-kata yang dihujamkan kepada hatinya lewat telinganya.

Beberapa hal yang harus kita tahu adalah, meski seorang anak sudah tidur, bacaan hadist, bisikan cinta dan kasih sayang, alunan ayat tetap bisa didengarkannya. Tidak sedikit anak yang dibesarkan secara fisik tapi jiwanya sudah dicuri. Dibelikan handphone paling canggih namun sang ayah tidak pernah menghubunginya.

Sebab itu, sekarang dibutuhkan para ayah  pemberani. Berani mengorbankan waktu, mengorbankan hobi, mengorbankan lainnya demi untuk meluangkan waktu untuk anaknya. (SJ)

Disarikan dari video penjelasan Ust. Bachtiar Nasir

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply