Mengenal Arsitektur Masjid Gedhe Kauman

Arsitektur Masjid Gedhe Kauman (sumber : @kratonjogja)
Arsitektur Masjid Gedhe Kauman (sumber : @kratonjogja)

Pada artikel sebelumnya telah dibahas awal mula pembangunan Masjid Gedhe Kauman hingga peran sertanya sebagai tempat latihan Asykar Perang Sabil. Selanjutnya akan dibahas seperti apa arsitektur dari Masjid kebanggaan masyarakat Jogja serta apa arti dari bangunan serta lambing-lambang tersebut.

Masjid Gedhe memiliki dua bangunan utama yaitu serambi dan ruang sholat. Keduanya melambangkan konsep hablum minnallah dan hablum minnanas. Hablum minannas tercermin pada fungsi serambi yang kini digunakan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan, dilambangkan dengan hiasan nanas yang menggantung di 8 tiang serambi. Nanas yang dekat dengan Bahasa Arab Annas berarti manusia, melambangkan hubungan antar manusia. Sedangkan hablum minnallah dilambangkan dengan dinding dan tiang ruang sholat yang tidak dilapisi cat, menggambarkan seseorang yang akan beribadah harus dalam kondisi suci. Hal ini bisa dilihat, warna-warna tiang di dalam masjid yang coklat polosan. Tanpa kuasan warna apapun.

Ruang sholat utamanya sendiri terdiri dari lima bagian yakni mihrab, mimbar khotib, maksura, yatihun, dan pawestren. Dahulu, jika Sultan dan keluarga menjalankan sholat, yang bersangkutan akan menempati maksura dengan penjagaan prajurit keraton di sekelilingnya.

Empat pilar, tiga susunan atap

Ciri khas arsitektur Masjid Kagungan Dalem dapat dilihat dari empat hal yaitu pilar, atap, kubah (mustaka), dan kolam (jagang). Masjid Gedhe memiliki empat pilar utama yang disebut dengan Saka Guru dan empat puluh delapan pilar pengiring pada bangunan utamanya. Atapnya berbentuk tajug dengan dasar persegi dikelilingi bidang-bidang segitiga yang menyatu pada bagian puncaknya.

Terdapat tiga susunan atap. Ini melambangkan tahapan dalam islam atau juga dalam menekuni ilmu tasawuf, yakni iman, islam, ikhsan atau syari`at, thareqat, dan ma`rifat. Bentuk mustaka masjid merupakan stilasi dari bentuk gada (melambangkaan keesaan Allah), daun kluwih (keluwihan) atau kelebihan yang bermakna bahwa manusia akan memiliki kelebihan dengan mempelajari agama, dan bunga gambir yang menggambarkan keharuman yang menebar (arum angambar).

Bagian Masjid Gedhe Kauman yang tanpa cat
Bagian Masjid Gedhe Kauman yang tanpa cat

Sekeliling Masjid Gedhe terdapat kolam dengan ukuran lebar 3 m, dalam 60 cm. Dulunya kolam ini berfungsi untuk membersihkan diri sebelum memasukki masjid. Mengingat dulu, umumnya masyarakat tidak menggunakan alas kaki.

Hingga saat ini, Masjid Gedhe masih digunakan untuk berbagai kegiatan. Salat lima waktu juga berlangsung di masjid ini. Bahkan setiap waktu salat Dzuhur, anak-anak dari Sekolah Dasar Muhammadiyah Kauman –yang berada tidak jauh dari masjid, juga salat berjamaah disini. Belum lama ini (2/9/2017) juga diadakan kegiatan Keraton Yogyakarta Garebeg Besar tahun Je 1950 di halaman Masjid.

Bagi anda yang sedang berkunjung ke Jogja, masjid ini termasuk bucket list wajib yang harus anda kunjungi. Masuk ke tempat bersejarah ini gratis. Cukup membayar biaya parkir seikhlasnya. (SJ)

Referensi: Media resmi Keraton Yogyakarta @kratonjogja

RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply