Kampung Pitu di Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran

Kampung Pitu di Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran
Jalur Kampung Pitu di Nglanggeran

Sebuah kampung berada tepat di sisi timur puncak Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan disana berbentuk limasan, lantai tanah dengan dinding kayu. Bukan pemukiman padat penduduk. Bahkan sangat jarang. Jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain sangat berjauhan. Orang-orang menyebutnya “Kampung Pitu”.

Tujuh Kepala Keluarga

Tulisan Selamat Datang di Gunung Api Purba Nglanggeran
Tulisan Selamat Datang di Gunung Api Purba Nglanggeran

Sebutan ini ini disematkan karena sejak ratusan tahun lalu, kampung ini memang hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga saja. Masyarakat disana percaya, untuk tinggal disini bukan hanya dibutuhkan kemampuan secara finansial saja. Namun juga kemampuan secara emosinal dan spiritual.

Terdapat satu cerita turun temurun yang mengkisahkan sejarah dari Kampung Pitu ini. Dulu awalnya tidak ada yang tinggal di puncak gunung ini. Hingga datanglah seorang abdi dalem Keraton yang menemukan sebuah pohon dan keris. Lalu, abdi dalem itu berkata, siapa yang bisa merawat pusaka tersebut akan diberi imbalan tanah untuk anak keturunannya. Setelah itu banyak orang yang datang ke tempat ini, namun hanya tujuh orang saja yang kuat bertahan ditempat ini.

Namun, apabila dilihat dari kondisi tempat disini, keengganan masyarakat untuk tinggal di kampung pitu ini ada alasannya. Pasalnya, kampung yang berada di ketinggian 625 mdpl ini masih sulit dijangkau. Menuju ke kampung ini juga tidak mudah. Akses jalan belum mudah. Banyak tanjakan curam yang harus ditaklukkan.

Pemandangan dari Gunung Nglanggeran
Pemandangan dari Gunung Nglanggeran

Selain itu, dari segi ekonomi akses kebutuhan sehari-hari pun tidak mudah. Hal ini kemudian membuat warga sekitar hidup dengan berternak dan bercocok tanam, entah berkebun atau mengelola sawah.  Beruntung, untuk ketersediaan air, masyarakat tidak pernah mengalami kesulitan. Sehingga tempat tanaman pertanian disini tetap bisa bertahan hidup.

Tlogo Mardhio

Terdapat sebuah sendang di Kampung Pitu ini, namanya Tlogo Mardhio atau Tlogo Guyangan. Konon katanya, mata air di tempat ini tidak pernah kering, meskipun musim kemarau. Oleh masyarakat sekitar, air dari sendang ini digunakan sebagai sumber kehidupan, baik untuk kebersihan maupun dikonsumsi.

Keunikan kampung ini membuat banyak wisatawan penasaran untuk berkunjung ke tempat ini. Maka tidak heran kalau sekarang, mungkin saat berkunjung, akan ditemui wisatawan lokal yang juga sedang berkunjung ke tempat ini. Lebih-lebih pada saat ada acara atau ritual tertentu disini.

Menariknya, di sekitar tempat ini banyak terdapat wisata yang bisa dikunjungi. Seperti Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran, embung nglanggeran, air terjun, dan lain sebagainya. Bahkan saat ini, pemuda di sekitar sudah mengembangkan wisata edukasi di sekitar Gunung Api Purba Nglanggeran.

Embung Nglanggeran
Embung Nglanggeran

Sebutan kampung pitu ini sendiri sebenarnya belum lama, baru 2015 kemarin sebutan ini mulai disematkan untuk kampung ini. Secara administrasi, sebenarnya ini bukan sebuah kampung tersendiri. Melainkan satu RT yang terdiri dari 7 kepala keluarga dengan 25 Jiwa.

Menuju kampung pitu, ada baiknya menggunakan guide dari pengelola wisata Gunung Api Nglanggeran. Menuju ke kawasan ini pengunjung harus teruji kemampuan mengendalikan kendaraannya. Arah menuju kesana cukup mudah, dari Kota Yogyakarta arahkan kendaraan ke Gunungkidul. Sampai di Patuk nanti akan ada papan penunjuk “Gunung Api Purba Nganggleran”. Nah, ikuti papan petunjuk itu sampai ke pos informasi wisata Gunung Api Purba Nglanggeran.

Penasaran ingin kesana? Yuukk…! (SJ)

RelatedPost

Be the first to comment

Leave a Reply