Merekam Jejak Pers di Monumen Pers Nasional

Merekam Jejak Pers di Monumen Pers Nasional

Sejarah dan Rekam Jejak Pers ~ Tak dapat dipungkiri dunia pers sangat berjasa dalam merekam momen-momen penting sejarah negara ini. Berkat siaran radio, pidato proklamasi kemerdekaan dapat diperdengarkan ke daerah-daerah hingga luar negeri. Berkat surat kabar pula, pemikiran-pemikiran para pendiri bangsa dapat disebarluaskan. Tapi tahukah Anda, terdapat sebuah tempat yang merekam jejak pers itu sendiri sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini.

Di Solo, Jawa Tengah, di Jalan Gadjah Mada No. 76, Banjarsari terdapat Monumen Pers Nasional.

Koleksi Pers

Di sana tersimpan baik benda-benda pers sebagai saksi bisu perjalanan bangsa Indonesia. Salah satunya surat kabar pertama berbahasa Melayu di Indonesia, Slompret Melayoe tahun 1888. Koran tersebut pertama kali terbit di Semarang pada tahun 1860.

Koran Slompret Melayoe
Koran Slompret Melayoe

Tidak hanya surat kabar. Mesin ketik milik Bakrie Soeratmadja, seorang wartawan pejuang pada masa pemerintahan Belanda tahun 1930an, juga terperlihara dengan baik di sini.

Terdapat pula pemancar radio SRV/RRI “Kambing” tahun 1933. Disebut pemancar kambing karena dahulu pemancar ini disembunyikan di kandang kambing untuk menghindari serangan Belanda. Pemancar ini diincar karena turut mengobarkan semangat anti penjajahan kala itu.

Di gedung terpisah, terdapat 6 diorama yang menceritakan sejarah perkembangan komunikasi dan pers di Indonesia. Salah satunya menggambarkan pers di masa Orde Baru. Kala itu ruang gerak pers dibatasi dan dapat dibredel sewaktu-waktu oleh pemerintah. Pada masa ini pula, pers Indonesia mulai menjadi industri ditandai dengan munculnya kapitalisme media.

Sejarah Pers Indonesia
Diorama Pers Orde Baru

Monumen yang diresmikan pada tahun 1973 ini juga memiliki ruang baca media cetak. Di dalamnya tersimpan lebih dari satu juta eksemplar bukti terbit media cetak dari seluruh Indonesia sejak jaman penjajahan sampai sekarang.

Media cetak berupa surat kabar, majalah dan buletin tertata rapi di rak sesuai tahun terbit dan penerbitnya. Media cetak yang terbit mulai tahun 2011 dapat juga diakses melalui komputer touchscreen di ruang baca media digital.

Selain masyarakat umum, Monumen Pers Nasional kerap menerima kunjungan rombongan dari instansi pendidikan maupun organisasi. Disamping sebagai objek wisata ilmiah pers, monumen pers juga sering dijadikan pusat rujukan riset di bidang pers.

“Hampir semua pelayanannya sangat nyaman, petugasnya juga ramah. Menurut saya ini harus dijaga dan dipertahankan”, tutur salah seorang pengunjung bernama Fallen (26). (SR)

Be the first to comment

Leave a Reply