Menjadi Ibu dan Guru Homeschooling Bagi Anak Sendiri (2)

Illustration depicting a green chalk board with a homeschooling concept.

Homeschooling – Seorang anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang memang mudah menyerap informasi apapun tanpa penangkal. Hal-hal baik yang diajarkan di rumah, bisa saja tergantikan oleh hasil pergaulan di luar rumah. Penting untuk membangun imunitas yang kuat selama di rumah sebelum melepaskan anak ke luar. Lalu, bagaimana jika menciptakan imunitas anak tanpa mengganggu proses belajar sosialisasi?

Sebelumnya, Ummi Sita dan suami yang berprofesi sebagai dosen di FK UGM, pernah tinggal di Jepang selama lima tahun. Putra pertamanya pernah merasakan pendidikan formal di Jepang. (Baca: Menjadi Ibu dan Guru Homeschooling Bagi Anak Sendiri #1)

“Pendidikan di Jepang sangat santai bagi anak, tidak memaksa. Di sana menyenangkan dan sesuai untuk pertumbuhan anak. Dan bagi saya, urusan sosialisasi untuk anak, di sana sudah sangat cukup. Karena di Jepang kan lebih heterogen teman-temannya,” jelas ibu muda alumni Fakultas Ekonomi UI ini.

Pendidikan di rumah dan imunitas

Pendidikan di rumah bersama ibu adalah salah satu langkah imunitas sebelum anaknya balig. Karena tugas utama orang tua memang mengantarkan anaknya menuju balig. Setelahnya mereka bisa mengambil keputusan dengan pemahaman dan imunitas yang telah dibentuk. Betapa banyak virus di luar rumah sering membuat orang tua stres. Misalnya perubahan tingkah polah anak yang tidak sesuai dengan didikan orang tua. Maka, membangun imunitas itu harus cukup matang untuk melawan virus-virus di luar rumah selama pendidikan di masa mendatang.

“Dua anak saya yang sedang mengikuti program Tahfidz satu tahun. Mereka memang tidak nyambung dengan anak-anak seusianya, yang terkadang membicarakan hal tidak bermakna. Justru mereka lebih suka main dengan orang-orang tingkat mahasiswa. Diskusi tentang buku atau novel. Setidaknya pembicaraan yang bermakna. Bagi saya itu tidak masalah. Daripada mereka pulang ke rumah membawa kata-kata kotor dari teman sepergaulannya. Itulah efek dari pembentukan orang tua yang selalu mengajak mereka berbicara. Selalu percaya pada anak,” lanjut Ummi Sita.

Selama ini tidak ada kendala bagi Ummi Sita dengan program yang disusun sendiri untuk anak-anak. Di rumah, ia juga membuka pelatihan Tahsin untuk semua usia dan TPA bagi anak-anak. Waktu terbanyak diprioritaskan untuk anak.

“Dulu cita-cita saya memang ingin jadi ibu. Banyak yang bilang, sayang ilmunya sampai kuliah. Ya kuliah sendiri kan juga proses pembelajaran. Yang paling penting bukan ilmu kuliahnya, tapi ilmu selama sekolah dan kuliah mengikuti organisasi, komunitas, bergabung dengan ini-itu, semuanya juga proses pembelajaran. Ilmu kehidupan itu lebih banyak daripada akademik. Ketika menjadi ibu, saya tidak ingin waktu untuk anak adalah sisa-sisa. Pun saya tidak ingin waktu anak-anak untuk orang tua adalah sisa-sisa. Mereka kalo sekolah di luar sampai siang atau sore sudah lelah. Malamnya belajar. Sangat sedikit untuk orang tua. Ketika saya hamil 5 bulan pertama dengan kondisi sangat lemah, itu juga proses pembelajaran bagi anak-anak saya. Bagaimana mereka mengerti tentang perempuan yang sedang hamil, membantu pekerjaan rumah tangga, saling membantu dengan adiknya,” tutur Ummi Sita dengan bangga menceritakan kisah putranya.

Di tahap akhir hampir mengantarkan kedua anak paling dewasa menuju balig. Kedua putra Ummi Sita mengikuti program tahfidz Quran di Rumah Quran. Selama satu tahun mereka belajar untuk menghafal Al-Quran. Sistem inilah yang sering diterapkan para ilmuwan muslim terdahulu. Mereka sebelumnya sudah hafal Al-Quran terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu dunia.

Urusan pendidikan formal, hal itu masih bisa dikejar dengan ujian kejar paket. Untuk mencapai kejar paket, cukup dengan belajar beberapa bulan saja. Ummi Sita paham, jika kondisi seorang anak sehat secara mental, ilmu-ilmu akademik sangat mudah dicerna. Mereka juga hanya perlu fokus pada materi ujian. Tidak dipenuhi dengan paksaan pelajaran lain. Terpenting adalah pembangunan kebiasaan dan karakter yang terus-menerus selama bersama sang ibu.

Orang tua bertanggung jawab penuh terhadap masa depan anak. Melepaskan anak pada pendidikan di luar rumah tanpa perlu membina di rumah, menjadi salah satu langkah kegagalan pendidikan anak.

Iman, adab, ilmu, dan amal

Pada dasarnya, ada 4 tahap mendidik anak. Di antaranya iman, adab, ilmu, dan amal. Sebelum dikenalkan pada ilmu-ilmu di sekolah, sewajarnya anak sudah selesai pada tahap iman dan adab, untuk membangun karakter. Karena dalam kondisi anak tidak terpapar apapun yang buruk, ia akan mengenal Tuhannya. Sementara jika sang anak sudah sering terpapar virus di luar rumah ketika bergaul, inilah salah satu penyebab stres orang tua yang mendapati perubahan anak. (AL)

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply