Menjadi Ibu dan Guru Homeschooling Bagi Anak Sendiri

homeschooling
Homeschooling Sumber: http://albertahomeeducation.ca

Ada beberapa alasan ketika orangtua memutuskan homeschooling untuk anak-anaknya, di antaranya faktor anak sendiri (anak dengan keterbatasan fisik, anak yang sering dibully di sekolah), ideologi orangtua (ingin pendidikan yang baik di rumah, masalah keyakinan), atau kondisi lingkungan sekolah yang dianggap buruk.

alasan homeschooling
Alasan homeschooling

Homeschooling

Beberapa orang tua yang tidak cukup puas dengan sistem pendidikan di sekolah, mulai beralih ke sistem pendidikan homeschooling . Mereka  tak lagi ragu menggunakan sistem homeschooling untuk anaknya. Namun, apakah serta merta homeschooling berarti memindahkan kurikulum sekolah ke rumah?

Homeschooling dan potensi anak

Sita Resmi, atau Ummi Sita panggilan akrabnya. Seorang ibu yang berani mengambil keputusan berani. Tidak menyekolahkan anak-anaknya di lembaga pendidikan formal. Ibu dari empat anak ini mendidik anaknya dengan kurikulum yang disusun sendiri. Kesadarannya, setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Sementara pendidikan di sekolah tidak mengelompokkan siswa berdasarkan potensi dan bersifat out side in, memaksa seluruhnya masuk ke dalam diri anak. Sementara pengajaran yang dilakukan oleh ibunya sendiri adalah in side out, membangun karakter dari dalam dahulu untuk memunculkan potensi.

Homeschooling
Homeschooling. Sumber: www.thoughtco.com

“Kalau itu tergantung usianya. Untuk anak saya ketiga masih 5 tahun. Belajarnya masih santai dan bermain-main. Hanya saya bacakan buku cerita. Karena anak di bawah usia 7 tahun, dasarnya otak kanan mereka sedang berkembang. Jadi salah jika umur segitu sudah diajarin hal-hal berat menggunakan otak kiri. Otak kanan itu melatih soal rasa. Dan homeschooling bukan berarti memindah kurikulum sekolah. Terus belajarnya di rumah, bukan. Kalau itu namanya flexy school,” jelas Ummi Sita.

Potensi-potensi itu akan muncul sendiri seiring perkembangan usia anak. Putra pertama yang berusia 13 tahun, cenderung pada ilmu sejarah. Ia menyukai buku-buku sejarah. Sementara anak kedua berusia 11 tahun. Ia cenderung pada sains dan ingin menjadi peneliti. Ia suka membaca buku biologi dan sains. Potensi itu keluar tanpa paksaan. Kelak ketika dewasa, mereka sendiri yang akan memilih arah tujuan hidup sesuai dengan potensi.

Homeschooling dan alasan lingkungan

Ada yang melatarbelakangi Ummi Sita dan suami mendidik anak di rumah. Salah satunya adalah faktor lingkungan yang tidak baik untuk tumbuh kembang anak. Perilaku-perilaku buruk sering kali dibawa dari pergaulan dengan teman-teman sekolah. Ummi Sita hanya bermaksud mengantarkan anaknya sampai balig, untuk tetap berada di pendidikan keimanan. Di fase ini peran keluarga juga menjadi fondasi utama pembentukan akhlak secara keseluruhan. Tak heran jika keempat anaknya memiliki karakter yang santun, rajin membaca buku, dan paham ilmu agama. Pendidikan semacam ini telah diterapkan ulama terdahulu. Bahwa sebelum mempelajari ilmu dunia, sepantasnya anak dipahamkan soal agama dan akhlak. Membangun karakter terlebih dahulu, baru pendidikan formal.

Banyak orang tua merasa takut dengan pola pendidikan homeschooling. Ketakutan bahwa anak tidak akan belajar bersosialisasi, terkadang membuat orang tua melepas begitu saja pergaulan anak di luar rumah. Nah, apakah benar homeschooling membuat anak kurang bersosialisasi? Bagaimana dengan keluarga Ummi Sita? (AL)

Berita Terkait :

Be the first to comment

Leave a Reply