Monumen Pers Nasional, Lebih dari Sekadar Museum

Monumen Pers Nasional, Lebih dari Sekadar Museum
Monumen Pers Nasional, Solo, Jawa Tengah

Sebagian orang mengenal Monumen Pers Nasional hanya sebagai museum. Tempat di mana berjajar rapi koleksi benda-benda pers sejak zaman sebelum kemerdekaan hingga saat ini. Tapi tahukah Anda, satu-satunya monumen pers yang ada di Indonesia ini memiliki program meningkatkan literasi di masyarakat.

Monumen berlokasi di Jalan Gadjah Mada No. 76, Banjarsari, Surakarta. Terdapat perpustakaan dengan koleksi tak kurang dari 15.000 buku. Tak hanya tentang ilmu komunikasi, terdapat juga buku bertema teknologi, ekonomi hingga filsafat. Buku-buku tersebut dapat diakses dan dipinjam secara cuma-cuma.

Pengunjung sedang menikmati layanan perpustakaan Monumen Pers Nasional
Pengunjung sedang menikmati layanan perpustakaan Monumen Pers Nasional

“Pengunjung perpustakaan paling banyak mengerjakan tesis dan skripsi sambil ngadem”, terang Arna’in, Staff Pelayanan Informasi Monumen Pers Nasional ketika ditemui di ruang informasi monumen, Jumat (26/5/2017).

Monumen yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik ini juga menyediakan layanan wifi gratis bagi pengunjung. Pengunjung dapat mengaksesnya melalui area hotspot di sekitar monumen selama 24 jam.  Rata-rata pengunjung dalam sehari mencapai 50 orang.

Terdapat pula papan baca yang diletakkan di luar gerbang monumen pers. Papan baca ini menampilkan  tabloid dan koran, baik lokal maupun nasional. Konten secara rutin diganti pagi dan sore. Papan baca  juga dilengkapi dengan lampu sehingga masyarakat tetap dapat menikmati informasi saat malam.  Pembaca tak hanya berasal dari lingkungan terpelajar, namun juga pengemudi becak hingga pemulung. Hal ini sesuai dengan harapan monumen pers nasional agar informasi dari media cetak dapat diakses oleh siapa saja dan kapan saja.

Papan Baca Monumen Pers Nasional

Arna’in lebih lanjut menuturkan Monumen Pers Nasional juga memiliki agenda dialog budaya, seminar dan pameran. Pameran telah dilaksanakan di beberapa kota seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Magelang. Satu kali pameran, rata-rata pengunjung mencapai 500 orang.

“Tujuannya untuk menambah wawasan masyarakat tentang ilmu pengetahuan yang ada di koleksi kita. Misal tidak semua orang pernah membaca pidato Bung Karno. Jadi kita tampilkan itu (di pameran)”, tambahnya.

Melalui layanan-layanan tersebut, Monumen Pers Nasional berharap ke depannya dapat menjadi agen media  literasi di tengah masyarakat. Masyarakat sendiri juga diharapkan lebih antusias lagi dalam memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan pihak monumen. (SR)

1 Trackback / Pingback

  1. Merekam Jejak Pers di Monumen Pers Nasional - Berita Sekitar DIY & Jawa Tengah

Leave a Reply